Minggu, 17 Juni 2012

Nabi Menjadikan Shalat untuk Mengadu Kepada Allah

Allah berfirman : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan bertemu Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah : 45-46)

Ibnu Katsir, dalam tafsir al Qur’ani al ¡Azhim (1/89) menerangkan ayat di atas dengan bertutur : “Allah memerintahkan hambaNya untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai pijakan bantuan dalam meraih apa yang mereka harapkan dari kebaikan dunia dan akhirat”.

Dari sahabat Hudzaifah, ia berkata, “Bila kedatangan masalah, Nabi mengerjakan shalat. (Hadist hasan riwayat Ahmad dalam Musnad (5/388) dan Abu Dawud (2/35). Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1/245).)

Itulah shalat yang sebenarnya, yang berperan sebagai piranti bagi seorang muslim dalam meminta perlindungan dan mengadu kepada Allah Ta’ala dari berbagai macam kesulitan dan kesedihan,permasalahan dan kepenatan. Dia tidak akan merasa sendirian, tetapi mendapatkan dukungan dari Allah, Pemilik langit dan bumi. Maka, tidak disangsikan lagi potensi yang tersimpan pada shalat. Sebab kondisi seorang hamba sangat dekat dengan Allah dalam sholat.

Nabi bersabda, “Seorang hamba akan menjadi paling dekat dengan Rabb-nya saat ia sedang sujud. Maka, perbanyaklah doa (di dalamnya).” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, semestinya seorang muslim memperbanyak doa saat bersujud, bertadharru’ (tunduk) kepada Allah, supaya Dia menyingkirkan berbagai permasalahan dan kesulitan, serta memberi kita anugerah kebaikan dunia dan akhirat.

Ibnul Qayyim menjelaskan faedah shalat, “Shalat termasuk factor dominant dalam mendatangkan maslahat dunia dan akhirat, dan menyingkirkan keburukan dunia dan akhirat. Ia menghalangi dari dosa, menolak penyakit hati, mengusir keluhan fisik, menerangi kalbu, mencerahkan wajah, menyegarkan anggota tubuh dan jiwa, memelihara kenikmatan, menepis siksa, menurunkan rahmat dan menyibak tabir permasalahan.” (Zadu al Ma’ad (4/120)

Shalat sendiri akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman jiwa. Dan seorang muslim, ia akan menggapai ketenangan jika dekat dengan Allah Ta’ala.

Disebutkan dalam firman Allah, Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar Ra’du : 27-28).

Nabi berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, kumandangkan iqamah shalat. Buatlah kami tenang dengannya.” (Hadist hasan, Shahihu al Jami’ : 7892)

Wahai orang yang mencari ketenangan dan ketentraman, dan kesejukan mata, tujulah shalat dengan penuh khusyu dan rasa hina di hadapan Allah, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah, agar engkau dapat merengkuh keinginanmu. Kalau tidak, maka janganlah mencela kecuali kepada dirimu sendiri.

***

Penulis : Syaikh Muhammad bin Sholeh Utsaimin

(Diangkat dari ash Shalatu wa Atsarahu fi Zayadati al Iman wa Tahdzibi an Nafs, karya Husain al ¡Awaysyah, Dar Ibni Hazm, Beirut, cet. III, Th. 1418 H)

Sumber : Majalah Assunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M, Hal. 07

Leave a Reply

 
 

Blog Archive

Daftar Blog Saya

Blogger news