Jumat, 06 Juli 2012

Mu’aqobah


Kesibukan kerja mungkin membuat kita terlena, entah karena target yang begitu ketat sehingga tanggung jika tidak terselesaikan atau karena kita memang menikmati pekerjaan sehingga lupa bahwa waktu waktu sholat telah tiba. Atau mungkin juga kita sudah terbiasa dan nyaman dengan melaksanakan sholat di akhir akhir waktu, sehingga tidak sibuk pun waktu sholat di akhirkan. Sholat Dhuhur dilaksanakan jam 13:30 sementara waktu sebelum itu sebenarnya santai juga. Sholat Ashar jika belum jam 16:30 belum dilaksanakan. Toh kerja juga ibadah, mungkin demikian pendapat sebagian orang.Justifikasinya adaaaa aja Padahal kita yakin seyakin yakinnya bahwa tujuan kerja adalah ibadah juga, bahwa sholat di awal waktu adalah yang paling Afdhal, bagi laki laki tentu lebih baik berjamaah. Kita sepakat untuk itu, bahkan jika kita ditanya, segera saja kita akan menjawab bahwa kerja kita juga diniatkan ibadah. Jadi konsepnya sudah benar.

Lingkungan kerja memang berbeda untuk masing masing kantor. Ada yang bekerja dengan full deadline , pressure namun ada juga yang relative santai. Waktu memang kadang menjadi permasalahan namun sikap mental kita sebenarnya lebih menjadikan masalah, apakah kita bisa ” memaksa ” diri kita untuk sholat tepat waktu atau tidak. Biasanya jika kita sudah terbiasa mengakhirkan sholat, perasaan untuk sholat di akhir waktu juga biasa biasa saja. Bahkan mungkin untuk jarak Jakarta – Bogor, Jakarta – Bekasi yang tidak jauh pun dijamak, karena tanggung maghrib dijalan, padahal syarat untuk dijamak belum memenuhi. Padahal jika sudah terbiasa sholat berjamaah di masjid, ketinggalan sholat berjamaah ada perasaan lain, ada perasaan rugi disana.

Para Salafus Shalih memberikan contoh yang sangat menarik dan patut kita contoh untuk hal ini. Mereka memberikan hukuman, Punishment, Mu’aqobah kepada dirinya sendiri manakala mereka ketinggalan dalam sholat sunnah atau sholat berjamaah. Bukan sholat Wajib lho yang ketinggalan, tapi sholat sunnah atau sholat berjamaahnya.

Ketika Abu Thalhah sedang Sholat, didepannya lewat seekor burung,lalu beliaupun melihatnya, sehingga lupa sudah berapa roka’at sholat beliau. Karena kejadian tersebut beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang orang miskin sebagai sanksi atas kelalaian dan ketidak khusu’annya.

Umar Bin Khattab raddhiyallahu ‘anhu pernah pergi ke kebunnya. Ketika pulang didapatinya orang orang sudah selesai melaksanakan sholat Ashar. Maka Umar berkata ” aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang orang sudah shalat Ashar …! Kini kebun ku aku jadikan shadaqah untuk orang orang miskin “.

Hasan bin Hannan pernah melewati sebuah rumah yang baru selesai dibangun. Beliau berkata ” Kapan rumah ini dibangun ?” Kemudian beliau menegur dirinya sendiri, ” kenapa kamu tanyakan sesuatu yang tidak berguna untuk dirimu ? akan kujatuhkan sangsi dengan berpuasa sunnah.

Subhanallah ini bukan negeri dongneng, namun ini adalah contoh dari generasi generasi terbaik yang memang sudah seharusnya kita mengusahakan semaksimal mungkin untuk mencontohnya. Naik turunya iman sering terjadi, kemalasan sering melanda kita apalagi dengan dunia kerja yang begitu dinamis. Yang terbaik adalah jika kita terseret dalam arus kemalasan dan santai, maka kita harus memaksa diri kita untuk memulainya. Jika kita terbiasa sholat lebih dari Jam 13:00 paksa untuk lebih awal lagi dsb. Jika kita senantiasa menunda nundanya biasanya hari berikutnya pun masih akan kita tunda lagi, itupun belum tentu berhasil. Ulama mengajarkan kita untuk salah satu agar komitmen ini berhasil adalah bergaullah dan akrablah dengan orang orang shalih, niscaya ruhiyah kita akan meningkat,. “Hai orang orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu beserta orang orang yang benar” ( Qs 9:119 ).

“Seseorang itu bersama dengan orang yang ia cintai” ( Bukhori – Muslim ).

Berat rasanya jika kita pinginnya sholih, sholat sunnah nya kuat, sholatnya tepat waktu, namun pergaulan sehari hari didominasi dengan pergaulan yang tidak islami. Sangat mungkin turunnya lebih sering daripada naiknya. Pentingnya bergaul dengan orang orang sholih ini, sangat ditekankan oleh para ulama salaf,Salah seorang ulama salaf mengatakan “Kalau saya merasa malas dalam beribadah maka saya perhatikan wajah Muhammad bin Wasi ( seorang alim yang banyak beribadah ) dan bagaimana kesungguhannya dalam beribadah, kemudian saya ikuti cara ibadahnya selama satu minggu “.

Saudaraku semua, semoga bermanfaat, terutama bagi diri saya sendiri. Saya tujukan tulisan ini terutama bagi diri saya sendiri juga jika berkenan bagi rekan rekan di milis kariramanah ini semuanya. Ayo, kita tingkatkan semangat. Kita lawan kemalasan. Jika kita masing dalam Last minute mentality dalam mengerjakan sesuatu, sudah seharusnya kita mulai rubah. Islam tidak demikian. Tidak salah juga kita mencari rekan yang baik, dan sholih. Jika masih dalam lingkungan yang kurang baik, tidak salah juga dibarengi dengan lingkungan yang kondusif untuk menguatkannya. Karena sahabat yang baik memang sungguh berarti untuk keimanan kita. Peribahasa mengatakan: Sahabat adalah penentu, Jangan Tanya siapa aku, Tanyakan siapa sahabatku, Pasti Anda tahu siapa diriku

Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

***

Dari Sahabat

Leave a Reply

 
 

Blog Archive

Daftar Blog Saya

Blogger news