Rabu, 21 September 2011

PETA TOPOGRAFI DAN PETA RBI

by : aditchimpunk

Secara umum peta adalah gambaran permukaan bumi pada bidang datar dengan skala tertentu melalui suatu sistem proyeksi. Kalau Anda bertanya kapan peta mulai ada dan digunakan manusia?

Jawabannya adalah peta mulai ada dan digunakan manusia, sejak manusia melakukanpenjelajahan dan penelitian. Walaupun masih dalam bentuk yang sangat sederhana yaitudalam bentuk sketsa mengenai lokasi suatu tempat.

Pada awal abad ke 2 (87M -150M), Claudius Ptolomaeus mengemukakan mengenai pentingnya peta. Kumpulan dari peta-peta karya Claudius Ptolomaeus dibukukan dan diberi nama “Atlas Ptolomaeus”. Sedangkan ilmu yang membahas mengenai peta adalah kartografi.Sedangkan orang ahli membuat peta disebut kartografer.

Peta topografi adalah suatu representasi di atas bidang datar tentang seluruh atau sebagian permukaan bumi yang terlihat dari atas dare diperkecil dengan perbandingan ukuran tertentu. Peta topografi menggambarkan secara proyeksi dari sebagian fisik bumi, sehingga dengan peta ini bisa diperkirakan bentuk permukaan bumi. Bentuk relief bumi pada peta topografi digambarkan dalam bentuk Garis-Garis Kontur.

Dalam menggunakan peta topografi harus diperhatikan kelengkapan petanya, yaitu:

1. Judul Peta

Adalah identitas yang tergambar pada peta, ditulis nama daerah atau identitas lain yang menonjol.

2. Keterangan Pembuatan

Merupakan informasi mengenai pembuatan dan instansi pembuat. Dicantumkan di bagian kiri bawah dari peta.

3. Nomor Peta (Indeks Peta)

Adalah angka yang menunjukkan nomor peta. Dicantumkan di bagian kanan atas.

4. Pembagian Lembar Peta

Adalah penjelasan nomor-nomor peta lain yang tergambar di sekitar peta yang digunakan, bertujuan untuk memudahkan penggolongan peta bila memerlukan interpretasi suatu daerah yang lebih luas.

5. Sistem Koordinat

Adalah perpotongan antara dua garis sumbu koordinat. Macam koordinat adalah:

a. Koordinat Geografis

Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (BB dan BT), yang berpotongan dengan garis lintang (LU dan LS) atau koordinat yang penyebutannya menggunakan garis lintang dan bujur. Koordinatnya menggunakan derajat, menit dan detik. Misal Co 120° 32′ 12″ BT 5° 17′ 14″ LS.

b. Koordinat Grid

Perpotongan antara sumbu absis (x) dengan ordinal (y) pada koordinat grid. Kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter), sebelah selatan ke utara dan barat ke timur dari titik acuan.

c. Koordinat Lokal

Untuk memudahkan membaca koordinat pada peta yang tidak ada gridnya, dapat dibuat garis-garis faring seperti grid pada peta.

Skala bilangan dari sistem koordinat geografis dan grid terletak pada tepi peta. Kedua sistern koordinat ini adalah sistem yang berlaku secara internasional. Namun dalam pembacaan sering membingungkan, karenanya pembacaan koordinat dibuat sederhana atau tidak dibaca seluruhnya.

6. Skala Peta

Adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak horisontal sebenarnya di medan atau lapangan. Rumus jarak datar dipeta dapat di tuliskan

JARAK DI PETA x SKALA = JARAK DI MEDAN

Penulisan skala peta biasanya ditulis dengan angka non garis (grafis).

Misalnya Skala 1:25.000, berarti 1 cm di peta sama dengan 25 m di medan yang sebenarnya.

7. Orientasi Arah Utara

Pada peta topografi terdapat tiga arah utara yang harus diperhatikan sebelum menggunakan peta dan kompas, karena tiga arah utara tersebut tidak berada pada satu garis.

Tiga arah utara tersebut adalah:

a. Utara Sebenarnya (True North/US/TN) diberi simbol * (bintang), yaitu utara yang melalui Kutub Utara di Selatan Bumi.

b. Utara Peta (Grid Nortb/UP/GN) diberi simbol GN, yaitu Utara yang sejajar dengan garis jala vertikal atau sumbu Y. Hanya ada di peta.

e. Utara Magnetis (Magnetic North/UM) diberi simbol T (anak pariah separuh), yaitu Utara yang ditunjukkan oleh jarum kompas. Utara magnetis selalu mengalami perubahan tiap tahunnya (ke Barat atau ke Timur) dikarenakan oleh pengaruh rotasi bumi. Hanya ada di medan.

Karena ketiga arah utara tersebut tidak berada pada satu garis, maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan sudut, antara lain:

a. Penyimpangan sudut antara US – UP balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Peta (IP) atau Konvergensi Merimion. Yang menjadi patokan adalah Utara Sebenarnya (US).

b. Penyimpangan sudut antara US – UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Magnetis (IM) atau Deklinasi. Yanmg menjadi patokan adalah l Utara sebenarnya ((IS).

c. Penyirnpangan sudut antara UP – UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Utara Peta-Utara Magnetis atau Deviasi. Yang menjadi patokan adalah Utara Pela f71′).

Dengan diagram sudut digambarkan

US UP UM

TRUE NORTH MAGNETIS NORTH

8. Garis Kontur atau Garis Ketinggian

Garis kontur adalah garis khayal dilapangan yang menghubungkan titik dengan ketinggian yang sama atau garis kontur adalah garis kontinyu diatas peta yang memperlihatkan titik-titik diatas peta dengan ketinggian yang sama. Nama lain garis kontur adalah garis tranches, garis tinggi dan garis tinggi horizontal. Garis kontur + 25m, artinya garis kontur ini menghubung kantitik-titik yang mempunyai ketinggian sama +25 m terhadap tinggi tertentu. Garis kontur disajikan di atas peta untuk memperlihatkan naik turunnya keadaan permukaan tanah. Aplikasi lebih lanjut dari garis kontur adalah untuk memberikan informasi slope (kemiringan tanah rata-rata), irisan profil memanjang atau melintang permukaan tanah terhadap jalur proyek (bangunan) dan perhitungan galian serta timbunan (cut and fill) permukaan tanah asli terhadap ketinggian vertikal garis atau bangunan. Garis kontur dapat dibentuk dengan membuat proyeksi tegak garis-garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi ke bidang mendatar peta. Karena peta umumnya dibuat dengan skala tertentu, maka untuk garis kontur ini juga akan mengalami pengecilan sesuai skala peta

Bentuk bentuk lembah dan pegunungan dalam kontur

Jalan menuju puncak umumnya berada di atas punggung (lihat garis titik-titik sedangkan disisinya terdapat lembah umumnya berisi sungai (lihat garis gelap).

http://achmadinblog.files.wordpress.com/2010/03/untitled.jpg?w=300&h=143

Garis kontur lembah, pegunungan dan pebukitan yang memanjang

Plateau

Daerah dataran tinggi yang luas

http://achmadinblog.files.wordpress.com/2010/03/plateu.jpg?w=300&h=143

Col

Daerah rendah antara dua buah ketinggian.

http://achmadinblog.files.wordpress.com/2010/03/col.jpg?w=300&h=143

Saddle

Hampir sama dengan col, tetapi daerah rendahnya luas dan ketinggian yang mengapit tidak terlalu tinggi.

http://achmadinblog.files.wordpress.com/2010/03/sadle.jpg?w=300&h=143

Pass

Celah memanjang yang membelah suatu daerah ketinggian.

http://achmadinblog.files.wordpress.com/2010/03/pass.jpg?w=300&h=143

Gambaran penampang

http://achmadinblog.files.wordpress.com/2010/03/pnmp-12.jpg?w=300&h=143

http://achmadinblog.files.wordpress.com/2010/03/pnmpng-2.jpg?w=300&h=143http://achmadinblog.files.wordpress.com/2010/03/3.jpg?w=300&h=143Sifat-sifat garis kontur, yaitu :

a. Garis kontur merupakan kurva tertutup sejajar yang tidak akan memotong satu sama lain dan tidak akan bercabang.

b. Garis kontur yang di dalam selalu lebih tinggi dari yang di luar.

c. Interval kontur selalu merupakan kelipatan yang sama

d. Indek kontur dinyatakan dengan garis tebal.

e. Semakin rapat jarak antara garis kontur, berarti semakin terjal Jika garis kontur bergerigi (seperti sisir) maka kemiringannya hampir atau sama dengan 90°.

f. Pelana (sadel) terletak antara dua garis kontur yang sama tingginya tetapi terpisah satu sama lain. Pelana yang terdapat diantara dua gunung besar dinamakan PASS.

g. Garis kontur berharga lebih rendah mengelilingi garis kontur yang lebih

tinggi.

h. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf “U” menandakan punggungan gunung.

i. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf “V” menandakan suatu lembah/jurang

9. Titik Triangulasi

Selain dari garis-garis kontur dapat pula diketahui tinggi suatu tempat dengan pertolongan titik ketinggian, yang dinamakan titik triangulasi Titik Triangulasi adalah suatu titik atau benda yang merupakan pilar atau tonggak yang menyatakan tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Macam-macam titik triangulasi

a. Titik Primer, I’. 14 , titik ketinggian gol.l, No. 14, tinggi 3120 mdpl. 3120

b. Titik Sekunder, S.45 , titik ketinggian gol.II, No.45, tinggi 2340 rndpl. 2340

c. Titik Tersier, 7: 15 , titik ketinggian gol.III No. 15, tinggi 975 mdpl 975

d. Titik Kuarter, Q.20 , titik ketinggian gol.IV, No.20, tinggi 875 mdpl. 875

e. Titik Antara, TP.23 , titik ketinggian Antara, No.23, tinggi 670 mdpl. 670

f. Titik Kedaster, K.131 , titik ketinggian Kedaster, No.l 31, tg 1202 mdpl. 7202

g. Titik Kedaster Kuarter, K.Q 1212, titik ketinggian Kedaster Kuarter, No. 1212, tinggi 1993 mdpl. 1993

10. Legenda Peta

Adalah informasi tambahan untuk memudahkan interpretasi peta, berupa unsur yang dibuat oleh manusia maupun oleh alam. Legenda peta yang penting untuk dipahami antara lain:

a. Titik ketinggian

b. Jalan setapak

c. Garis batas wilayah

d. Jalan raya

e. Pemukiman

f. Air

g. Kuburan

h. Dan Lain-Lain

MEMAHAMI PETA TOPOGRAFI

A. MEMBACA GARIS KONTUR

1. Punggungan Gunung

Punggungan gunung merupakan rangkaian garis kontur berbentuk huruf U, dimana Ujung dari huruf U menunjukkan ternpat atau daerah yang lebih pendek dari kontur di atasnya.

2. Lembah atau Sungai

Lembah atau sungai merupakan rangkaian garis kontur yang berbentuk n (huruf V terbalik) dengan Ujung yang tajam.

3. Daerah landai datar dan terjal curam

Daerah datar/landai garis kontumya jarang jarang, sedangkan daerah terjal/curam garis konturnya rapat.

B. MENGHITUNG HARGA INTERVAL KONTUR

Pada peta skala 1 : 50.000 dicantumkan interval konturnya 25 meter. Untuk mencari interval kontur berlaku rumus 1/2000 x skala peta. Tapi rumus ini tidak berlaku untuk semua peta, pada peta GUNUNG MERAPI/1408-244/JICA TOKYO-1977/1:25.000, tertera dalam legenda peta interval konturnya 10 meter sehingga berlaku rumus 1/2500 x skala peta. Jadi untuk penentuan interval kontur belum ada rumus yang baku, namun dapat dicari dengan:

1. Carl dua titik ketinggian yang berbeda atau berdekatan. Misal titik A dan B.

2. Hitung selisih ketinggiannya (antara A dan B).

3. Hitung jumlah kontur antara A dan B.

4. Bagilah selisih ketinggian antara A – B dengan jumlah kontur antara A – B, hasilnya adalah Interval Kontur.

C. UTARA PETA

Setiap kali menghadapi peta topografi, pertama-tama carilah arah utara peta tersebut. Selanjutnya lihat Judul Peta (judul peta selalu berada pada bagian utara, bagian atas dari peta). Atau lihat tulisan nama gunung atau desa di kolom peta, utara peta adalah bagian atas dari tulisan tersebut.

D. MENGENAL TANDA MEDAN

Selain tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta, untuk keperluan orientasi harus juga digunakan bentuk-bentuk bentang alam yang mencolok di lapangan dan mudah dikenal di peta, disebut Tanda Medan. Beberapa tanda medan yang dapat dibaca pada peta sebelum berangkat ke lapangan, yaitu:

1. Lembah antara dua puncak

2. Lembah yang curam

3. Persimpangan jalan atau Ujung desa

4. Perpotongan sungai dengan jalan setapak

5. Percabangan dan kelokan sungai, air terjun, dan lain-lain.

Untuk daerah yang datar dapat digunakan-.

1. Persimpangan jalan

2. Percabangan sungai, jembatan, dan lain-lain.

E. MENGGUNAKAN PETA

Pada perencanaan perjalanan dengan menggunakan peta topografi, sudah tentu titik awal dan titik akhir akan diplot di peta. Sebelurn berjalan catatlah:

1. Koordinat titik awal (A)

2. Koordinat titik tujuan (B)

3. Sudut peta antara A – B

4. Tanda medan apa saja yang akan dijumpai sepanjang lintasan A – B

5. Berapa panjang lintasan antara A – B dan berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lintasan A -B.

Yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu operasi adalah

+ Kita harus tahu titik awal keberangkatan kita, balk di medan maupun di peta.

+ Gunakan tanda medan yang jelas balk di medan dan di peta.

+ Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita, apakah sudah sesuai dengan tanda medan yang kita gunakan sebagai patokan, atau belum.

+ Perkirakan berapa jarak lintasan. Misal medan datar 5 krn ditempuh selama 60 menit dan medan mendaki ditempuh selama 10 menit.

+ Lakukan orientasi dan resection, bila keadaannya memungkinkan.

+ Perhatikan dan selalu waspada terhadap adanya perubahan kondisi medan dan perubahan arah perjalanan. Misalnya dari pnggungan curam menjadi punggungan landai, berpindah punggungan, menyeberangi sungai, ujung lembah dan lain-lainnya.

+ Panjang lintasan sebenarnya dapat dibuat dengan cara, pada peta dibuat lintasan dengan jalan membuat garis (skala vertikal dan horisontal) yang disesuaikan dengan skala peta. Gambar garis lintasan tersebut (pada peta) memperlihatkan kemiringan lintasan juga penampang dan bentuk peta. Panjang lintasan diukur dengan mengalikannya dengan skala peta, maka akan didapatkan panjang lintasan sebenarnya.

F. MEMAHAMI CARA PLOTTING DI PETA

Plotting adalah menggambar atau membuat titik, membuat garis dan tandatanda tertentu di peta. Plotting berguna bagi kita dalam membaca peta. Misalnya Tim Bum berada pada koordinat titik A (3986 : 6360) + 1400 m dpl. SMC memerintahkan Tim Buni agar menuju koordinat titik T (4020 : 6268) + 1301 mdpl. Maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :

a. Plotting koordinat T di peta dengan menggunakan konektor. Pembacaan dimuali dari sumbu X dulu, kemudian sumbu Y, didapat (X:Y).

b. Plotting sudut peta dari A ke T, dengan cara tank garis dari A ke T, kemudian dengan busur derajat/kompas orientasi ukur besar sudut A – T dari titik A ke arah garis AT. Pembacaan sudut menggunakan Sistem Azimuth (0″ -360°) searah putaran jarum Jain. Sudut ini berguna untuk mengorientasi arah dari A ke T.

c. Interprestasi peta untuk menentukan lintasan yang efisien dari A menuju T. Interprestasi ini dapat berupa garis lurus ataupun berkelok-kelok mengikuti jalan setapak, sungai ataupun punggungan. Harus dipaharni betul bentuk garis garis kontur.

Plotting lintasan dan memperkirakan waktu tempuhnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tempuh :

+ Kemiringan lereng + Panjang lintasan

+ Keadaan dan kondisi medan (misal hutan lebat, semak berduri atau gurun pasir).

+ Keadaan cuaca rata-rata.

+ Waktu pelaksanaan (yaitu pagi slang atau malam).

+ Kondisi fisik dan mental serta perlengkapan yang dibawa.

G. MEMBACA KOORDINAT

Cara menyatakan koordinat ada dua cara, yaitu:

1. Cara Koordinat Peta

Menentukan koordinat ini dilakukan diatas peta dan bukan dilapangan. Penunjukkan koordinat ini menggunakan

a. Sistem Enam Angka Misal, koordinat titik A (374;622), titik B (377;461) b. Cara Delapan Angka Misal, koordinat titik A (3740;6225), titik B (3376;4614)

2. Cara Koordinat Geografis

Untuk Indonesia sebagai patokan perhitungan adalah Jakarta yang dianggap 0 atau 106° 4$’ 27,79″. Sehingga di wilayah Indonesia awal perhitungan adalah kota Jakarta. Bila di sebelah barat kota Jakarta akan berlaku pengurangan dan sebaliknya. Sebagai patokan letak lintang adalah garis ekuator (sebagai 0). Untuk koordinat geografis yang perlu diperhatikan adalah petunjuk letak peta.

H. SUDUT PETA

Sudut peta dihitung dari utara peta ke arah garis sasaran searah jarum jam. Sistem pembacaan sudut dipakai Sistem Azimuth (0° – 360°). Sistem Azimuth adalah sistem yang menggunakan sudut-sudut mendatar yang besarnya dihitung atau diukur sesuai dengan arah jalannya jarum jam dari suatu garis yang tetap (arah utara). Bertujuan untuk menentukan arah-arah di medan atau di peta serta untuk melakukan pengecekan arah perjalanan, karena garis yang membentuk sudut kompas tersebut adalah arah lintasan yang menghubungkan titik awal dan akhir perjalanan. Sistem penghitungan sudut dibagi menjadi dua, berdasar sudut kompasnya

AZIMUTH : SUDUT KOMPAS

BACK AZIMUTH : Bila sudut kompas > 180° maka sudut kompas dikurangi 180°. Bila sudut kompas < 1800 maka sudut kompas ditambah 180°.


http://indotips.info/wp-content/uploads/2011/04/fe3c770eimage001.jpg
Peta RBI atau yang biasa disebut juga dengan peta Topografi atau peta dasar. Peta dasar yaitu peta yang digunakan sebagai dasar pembuatan peta lainnya. Untuk pembuatan peta tematik, peta dasar yaitu peta yang berisi semua data-data tematis yang akan digambarkan. Pada hakekatnya peta dasar yang digunakan yaitu peta topografi yang resmi dari suatu negara. Umumnya peta dasar tersebut dibuat berdasarkan survey lapangan atau cara lain yang biasa disebut fotogrametris. Peta yang dijadikan peta dasar akan ada perbedaan dalam proyeksi, skala, ketelitian ataupun waktu penerbitannya. sehingga mutu peta dasar ini jelas merupakan hal yang cukup penting juga. Peta topografi atau peta RBI berbeda dengan basemap, peta topografi berfungsi untuk berbagai kegunaan geografi.
Base Map sebagai dasar pembuatan peta tematik.

Peta RBI biasanya digunakan sebagai dasar pembuatan peta tematik, diperlukan data-data topografi dan dari peta itulah semua data-data tematis akan digambarkan. Biasanya jenis peta ini digunakan untuk keperluan peta tematik dalam memperhatikan batas-batas wilayah dengan sangat terperinci. Meskipun demikian, karena tergantung dari penggunaan selanjutnya, kadang-kadang peta ini digeneralisasi dahulu sebelum digunakan sebagai peta tematik. Generalisasi peta yang sementara ini biasa disebut dengan peta tematik tentative. Yaitu peta tematik sementara sebelum siap digunakan sebagai peta tematik.
Peta Tematik yaitu suatu peta yang menggambarkan informasi kualitatif dan kuantitatif tentang kenampakan-kenampakan atau konsep yang spesifikyang ada hubungannya dengan detil topografi tertentu. Menurut International Cartographig Association (1973), peta tematik yaitu peta yang dibuat dan didesain untuk menggambarkan kenampakan-kenampakan atau konsep-konsep khusus.

http://indotips.info/wp-content/uploads/2011/04/2b385ad2image002.jpg
Dari uraian singkat diatas bisa diambil kesimpulan bahwa, ada hubungan yang saling berkaitan dan sangat erat antara peta topografi, basemap, peta tematik tentative dan peta tematik akhir.

http://indotips.info/wp-content/uploads/2011/04/c1f04675image001-150x126.jpg

Peta RBI

Wednesday, 24 August 2011 05:08 smaile_admin

E-mailPrintPDF

Peta Rupabumi Indonesia (RBI) adalah peta topografi yang menampilkan sebagian unsur-unsur alam dan buatan manusia di wilayah NKRI. Unsur-unsur kenampakan rupabumi dapat dikelompokkan menjadi 7 tema, yaitu:

Unsur-unsur kenampakan rupabumi dapat dikelompokkan menjadi 7 tema, yaitu:

· Tema 1: Penutup lahan: area tutupan lahan seperti hutan, sawah, pemukiman dan sebagainya

· Tema 2: Hidrografi: meliputi unsur perairan seperti sungai, danau, garis pantai dan sebagainya

· Tema 3: Hipsografi: data ketinggian seperti titik tinggi dan kontur

· Tema 4: Bangunan: gedung, rumah dan bangunan perkantoran dan budaya lainnya

· Tema 5: Transportasi dan Utilitas: jaringan jalan, kereta api, kabel transmisi dan jembatan

· Tema 6: Batas administrasi: batas negara provinsi, kota/kabupaten, kecamatan dan desa

· Tema 7: Toponimi: nama-nama geografi seperti nama pulau, nama selat, nama gunung dan sebagainya

Berikut adalah indeks, data ketersediaan, dan tahun pembuatan peta RBI dalam skala 1:250.000, 1:50.000, 1: 25.000, dan 1:10.000

Peta RBI skala 1:250.000 (download resolusi tinggi, 549 KB)

http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/assets/download/RBI/thumbs_rbi/RBI_250K.jpg?

Peta RBI skala 1:50.000 (download resolusi tinggi, 668 KB)

http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/assets/download/RBI/thumbs_rbi/RBI_50K.jpg?

Peta RBI skala 1:25.000 (download resolusi tinggi, 623 KB)

http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/assets/download/RBI/thumbs_rbi/RBI_25K.jpg?

Peta RBI skala 1:10.000 (download resolusi tinggi, 647 KB)

http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/assets/download/RBI/thumbs_rbi/RBI_10K.jpg?

Topografi dan Rupa Bumi, sama ataukah Berbeda?

14012010

rupa bumi

peta rupa bumi

topografi

Peta Topografi


Banyak orang dibingungkan oleh dua istilah ini, bahkan oleh mahasiswa geografi UGM sekalipun. Kata topografi maupun rupa bumi sebenarnya merupakan kata yang lazim didengar oleh para geograf. Biasanya, kedua kata tersebut di sandang dengan kata peta di depannya, sehingga menjadi peta topografi dan peta rupa bumi. Juga, lazimnya peta rupa bumi di Indonesia di sebut sebagai peta RBI (Rupa Bumi Indonesia). Kembali pada permasalahan awal, apakah topografi dan rupa bumi merupakan kata yang bersinonim atau mungkin berbeda makna. Untuk lebih memahaminya, berikut dijelaskan tentang kedua istilah tersebut.
Topografi secara bahasa berasal dari kata Yunani, topos yang berarti tempat, dan graphia yang berarti tulisan. Menurut Kamus besar bahasa Indonesia, topografi di artikan sebagai berikut.

to•po•gra•fi n 1 kajian atau penguraian yg terperinci tt keadaan muka bumi pd suatu daerah; 2 pemetaan yg terperinci tt muka bumi pd daerah tertentu; 3 keadaan muka bumi pd suatu kawasan atau daerah; 4 uraian tt suatu bagian tubuh sampai ke segala hal ihwal anatominya

Menurut istilah, topografi berarti Topografi adalah studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain seperti planet, satelit alami (bulan dan sebagainya), dan asteroid. Dalam pengertian yang lebih luas, topografi tidak hanya mengenai bentuk permukaan saja, tetapi juga vegetasi dan pengaruh manusia terhadap lingkungan, dan bahkan kebudayaan lokal. Topografi umumnya menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identifikasi jenis lahan. Penggunaan kata topografi dimulai sejak zaman Yunani kuno dan berlanjut hingga Romawi kuno, sebagai detail dari suatu tempat. Objek dari topografi adalah mengenai posisi suatu bagian dan secara umum menunjuk pada koordinat secara horizontal seperti garis lintang dan garis bujur, dan secara vertikal yaitu ketinggian. Mengidentifikasi jenis lahan juga termasuk bagian dari objek studi ini. Studi topografi dilakukan dengan berbagai alasan, diantaranya perencanaan militer dan eksplorasi geologi. Untuk kebutuhkan konstruksi sipil, pekerjaan umum, dan proyek reklamasi membutuhkan studi topografi yang lebih detail.(Wikipedia, 2009)
Sementara, untuk istilah rupa bumi sendiri belum ditemukan definisi yang baku baik di KBBI maupun di literature lainnya. Terkait dengan hal ini, untuk menemukan jawaban dari pertanyaan awal, maka dapat dilakukan analisis dengan mengetahui di mana istilah rupa bumi ini mulai muncul. Di Indonesia, istilah rupa bumi selalu di sandangkan dengan kata peta. Umumnya, orang lebih akrab dengan panggilan peta RBI atau Peta Rupa Bumi Indonesia. Bagaimana istilah ini muncul, saya ingin mengutip tulisan dari sebuah buku karangan Jacub Rais yang merupakan biografi tentang dirinya sendiri dengan judul “Jacub Rais 80 Tahun, Merintis Geomatika di Indonesia”.
“sementara itu, untuk membedakan dengan peta topografi, aku mengusulkan agar bakosurtanal memakai istilah peta rupa bumi. Usulanku diterima oleh kedua belah pihak. Istilah ini aku ambil dari Malaysia yang menyebut peta topografi dengan sebutan peta rupa bumi dan peta geologi dengan peta kaji bumi.”
Beberapa kalimat di atas menjelaskan kepada kita bahwa seorang yang bernama Jacub Rais-lah yang pertama kali menggunakan kalimat “rupa bumi” di Indonesia untuk menggantikan istilah Topografi untuk menyebut nama peta buatan Bakosurtanal. Jadi, telah jelas sekarang bahwa kata topografi sama dengan rupa bumi, yang sebelumnya telah lama digunakan oleh Negara Malaysia.
Lalu, mungkin akan timbul pertanyaan, mengapa kedua istilah tersebut terkesan berbeda. Menurut saya, kedua istilah ini terkesan berbeda dikarenakan kata peta yang berada di depannya. Bila disandang kata peta, maka akan tercipta kata peta topografi dan peta Rupa Bumi. Kita telah paham bahwa rupa bumi dan topografi merupakan kata-kata yang memiliki makna yang sama. Namun, kandungan peta topografi dan peta RBI secara substansi berbeda walaupun secara esensi sama.
Sebelum bakosurtanal membuat peta yang kemudian dinamakan Rupa bumi Indonesia, telah dikenal jenis peta topografi yang dibuat oleh Dittop AD/ Basurta ABRI, yang kemudian dinamakan LCO. Hal yang paling mendasar yang membedakan antara keduanya tentunya dari sisi pembuatnya. Selain itu, perbedaannya dapat dilihat dari penomorannya. Pada peta topografi LCO, masih menggunakan dua jenis symbol, huruf dan angka. Sementara, pada peta rupa bumi, penomorannya hanya dilambangkan dengan angka saja.
Perbedaan dapat pula dilihat dari tampilan lay out. Namun, dari segi isi hampir sama yang walaupun kenampakan jalan setapak, menurut buku jacub rais 80 tahun tersebut, di jelaskan bahwa telah disepakati bahwa tidak dicantumkan pada peta RBI namun, ketika dicetak kenampakannya masih ada karena sudah ada dipelat cetak dan sukar dibuang. Masih banyak perbedaan-perbedaan lainnya yang membuat orang melihat topografi dan rupa bumi sebagai dua buah istilah yang berbeda. namun berdasarkan uraian di atas, telah jelaslah bahwa 2 istilah tersebut mengandung makna yang sama.
Referensi :
www.Wikipedia.com
www.pusatbahasa.diknas.go.id\kbbi
Rais, Jacub.2008. Jacub Rais 80 Tahun, Merintis Geomatika di Indonesia.Jakarta: MAPIPTEK

PETA RBI
http://2.bp.blogspot.com/-rcXpGKK-5gc/TZsNwLSsaII/AAAAAAAAALQ/jpOq5_11aBE/s320/image001.jpg

PETA TOPOGRAFI
http://1.bp.blogspot.com/-BwQ8C43m17E/TZsNwOsTfuI/AAAAAAAAALY/Pvzsq-Sa-_0/s320/image002.jpg


Marginal information Peta RBI
http://1.bp.blogspot.com/-2ZGa-9yJNX4/TZsNwuIZTHI/AAAAAAAAALo/2OEL0Bmk4CI/s320/image004.jpg

Marginal information Peta Topografi
http://1.bp.blogspot.com/-IbyasmpZYmM/TZsNwaQGRiI/AAAAAAAAALg/rBloiMbKeFU/s320/image003.jpg

Peta topografi (peta RBI) yaitu peta yang memvisualkan kenampakan rupabumi secara umum. Kenampakan-kenampakan yang ditampilkan dalam peta RBI antara lain kenampakan perairan, kenampakan vegetasi, kenampakan air,dan kenampakan sosial.
Kenampakan perairan divisualkan simbol garis dan simbol bidang berwarna biru antara lain sungai, danau, waduk, laut. Kenampakan vegetasi simbol area antara lain hutan, semak belukar, tegalan, dll. Kenampakan sosial disimbolkan dengan simbol area dan simbol titik antara lain permukiman, masjid, bangunan, kantor pemerintahan, dll.

Pembuatan peta RBI menggunakan kaidah kartografis yang baku dan generalisasinya dilakukan secara umum. Peta RBI menampilkan informasi rupabumi secara umum dan tidak ada informasi yang ditonjolkan.
Peta dasar (base map) yaitu peta topografi yang digunakan sebagai dasar pembuatan peta tematik. Dalam pembuatan peta tematik, peta dasar digunakan untuk memplotkan data yang didapat, baik data kualitatif maupun data kuantitatif. Dari data tersebut, pembuat peta memplotkannya ke peta dasar lalu memilih informasi mana yang harus ditonjolkan dan mana yang harus dihilangkan.

Peta topografi dan peta dasar wujudnya sama tetapi memiliki tujuan penggunaan yang berbeda. Peta topografi digunakan untuk kepentingan kajian geografis secara umum seperti penelitian, penunjuk lokasi, dsb. Sedangkan peta dasar atau basemap digunakan untuk memplotkan data untuk dijadikan sebagai peta tematik.
Peta tematik tentatif yaitu peta tematik sementara yang masih perlu dilakukan penelitian terestrial untuk menjadikannya peta tematik akhir. Peta tematik tentatif baru mengalami proses pengeplottan data ke peta dasar.
Peta tematik (final thematic map) yaitu peta yang dibuat dan didesain untuk menggambarkan kenampakan-kenampakan atau konsep-konsep khusus. Peta tematik berupa data tematik kemudian diletakkan atau diplotkan ke peta dasar (RBI). Peta tematik akhir sudah mengedepankan informasi khusus atau bertema sehingga penekanannya pada tema khususnya.
Perbedaan peta tematik akhir dengan peta topografi yaitu informasi yang ditampilkan. Peta topografi menampilkan informasi rupabumi secara keseluruhan sedangkan peta tematik hanya menampilkan informasi yang ingin ditonjolkan sesuai tema. Peta dasar digunakan untuk dasar pembuatan peta tematik. Data kualitatif maupun kuantitatif yang didapatkan, diplotkan ke peta dasar. Peta dasar yang sudah diplotkan informasi khusus, masih belum bisa dikatakan peta tematik akhir, akan tetapi baru dikatakan peta tematik tentatif. Agar bisa menjadi peta tematik akhir, peta tematik tentatif perlu mendapatkan data tematik dengan berbagai cara yaitu dengan survei dan compiled (mengutip). Survei bisa dilakukan dengan menggunakan penginderaan jauh (foto udara, citra satelit, citra radar) dan survei terrestrik. Survei terrestrik didapat dari pengumpulan data dilapangan kemudian untuk melakukan pengecekan menggunakan pengideraan jauh. Dengan menggunakan penginderaan jauh bisa dengan foto udara ataupun citra satelit yang bisa diketahui dari rona suatu wilayah. Survai lapangan dirasa perlu dilakukan untuk mensinkronkan antara data yang diperoleh dari penginderaan jauh dengan data dilapangan. Sehingga didapatkan data tematik yang valid. Proses tersebut berguna untuk pembuktian tentang data yang didapatkan dan yang sudah diplotkan ke peta dasar. Apabila semua proses sudah dilakukan, maka baru bisa menghasilkan peta tematik akhir.

https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8023319589352119864-2091933791361300695?l=perpustakaan-online.blogspot.com

Leave a Reply

 
 

Daftar Blog Saya

Blogger news