Minggu, 12 Mei 2013

KARAKTERISASI LIMBAH TAMBANG EMAS RAKYAT DIMEMBE KABUPATEN MINAHASA UTARA


Characterization of the Traditional Gold Mining in Dimembe, North Minahasa

Herry Sumual
Dosen Jurusan Elektro, Fakultas Teknik, UNIMA Manado

 

 

ABSTRAK


Proses pengolahan emas secara tradisional yang diterapkan di wilayah pertambangan Dimembe menggunakan teknologi sederhana dengan merkuri sebagai bahan penangkap emas melalui proses amalgamasi. Proses penangkapan ini cenderung berdampak negatif terhadap lingkungan sekitar karena pada setiap tahapan proses memungkinkan terjadi degradasi logam berat yang ada, sehingga dikhawatirkan dapat mencemari lingkungan. Salah satu teknologi yang dapat diterapkan untuk meminimalisasi kandungan logam berat yang terkandung dalam limbah adalah menggunakan tumbuhan sebagai agen biofiltrasi, sehingga dengan mengetahui kandungan unsur-unsur makro nutrient yang terkandung dalam limbah menggambarkan kemungkiman pemanfaatan tumbuhan air sebagai agen biofiltrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan limbah tambang mengandung logam berat berupa Hg, As, Pb yang melampaui ambang batas baku mutu lingkungan, selain itu mengandung hara makro yang memungkinkan tumbuhan air tumbuh dalam air limbah tersebut.

Kata kunci: limbah tambang, logam berat, makro nutrient


ABSTRACT

Traditional gold mining process applied at mining areas in Dimembe used the simple technology, namely mercury, as an absorption agent through amalgam process. Catching process is tend to create any negative impacts in surrounding environment, while at the every steps was possibly occur to degrade a heavy metal and predicted that will pollute environment. One of the technology used to minimize heavy metal in waste water is using plant as an biofiltrasi agent. With knowing the macro parts of nutrient in waste water show the possibility of utilization of water plant as an biofiltration agent. Research result shows that overall mining water consist of heavy metal as Hg, As, Pb which over the environmental standar, excepted consist of macro nutrient which can support aquatic plant growth in those wastewater.

Key words: Mining waste, heavy metal, macro nutrient



PENDAHULUAN


Kegiatan pertambangan emas yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di wilayah Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara telah berlangsung sejak tahun 1985 sampai sekarang. Kegiatan pertambangan ini dilakukan secara tradisional, dimana proses pengolahannya tidak menggunakan teknologi yang tinggi dan hanya menggunakan peralatan yang sangat sderhana. Proses pengolahan emas ini dilakukan dengan mengikuti beberapa tahapan antara lain penggalian batuan, pengolahan, dan pembuangan limbah. Setiap tahapan proses ini secara ekologi membawa dampak yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan, sehingga perlu langkah-langkah yang bijaksana dalam penanganannya sehingga resiko terhadap kerusakan lingkungan dapat diminimalisasi.
Salah satu daerah pembuangan air limbah pertambangan rakyat yang berlangsung di daerah kecamatan Dimembe adalah lahan yang ada di sekitar lokasi pengolahan yang selanjutnya mengalir menuju ke sungai sehingga makin lama terjadi akumulasi kandungan logam dan material lainnya yang terkandung di dalam limbah sehingga lama-kelamaan ekosistim sungan juga terganggu. Sebagai suatu ekosistim, sungai merupakan suatu tempat yang  menjadi sasaran pembuangan limbah sehingga mengakibatkan tingkat pencemaran semakin tinggi yang pada akhirnya pencemaran tersebut mempengaruhi kehidupan biota air yang ada di dalamnya. Fardiaz (1992) mengemukakan bahwa air sering tercemar oleh komponen-komponen anorganik antara lain logam berat yang berbahaya. Penggunaan logam-logam berat ini untuk keperluan sehari-hari secara langsung atau tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja, sengaja tapi tidak langsung, telah mencemari lingkungan, dimana beberapa jenis tertentu telah mencemari lingkungan melebihi ambang batas bagi kehidupan. Logam-logam pencemar tersebut antara lain merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), kadmium (Cd), kromium (Cr), dan nikel (Ni) merupakan logam-logam yang dapat terakumulasi dalam tubuh suatu organisme dan akan tetap tinggal dalam tubuh dalam jangka waktu lama sebagai racun.
Pertambangan emas tradisional merupakan salah satu kegiatan ekonomi masyarakat di mana para penambang memperoleh penghasilan yang cukup dari aktifitas tersebut. Di pihak lain, kegiatan pertambangan ini berpotensi mencemari lokasi dan lingkungan sekitarnya karena penerapan teknologi yang sederhana seperti penggunaan merkuri sebagai pengikat unsur emas dalam proses amalgamasi. Pencemaran tersebut terjadi ketika sebagian merkuri yang digunakan sebagai bahan pengikat unsur emas, terbuang bersama air limbah pencucian ke lokasi pembuangan baik di tanah maupun di air sungai. Untung dan Achmad (1999) mengemukakan bahwa air limbah dari penirisan tambang emas bersifat asam dan mengandung logam berat. Kadar asam (pH) air tersebut berkisar antara 1,99 - 2,06. Konsentrasi tembaga berkisar antara 2,49 - 3,17 mg/l, seng antara 39,21 - 98,20 mg/l dan timbal antara 0,16 - 1,25 mg/l, sedangkan batuan yang digunakan sebagai penutup mengandung berbagai jenis logam antara lain tembaga 0,007 - 0,056%. Pb 0,009 - 0,09%, Fe total 6,93 - 34,4%.
Rumengan et al. (2004) menge-mukakan bahwa berdasarkan kegiatan pemantauan pada bulan Mei dan Juni 2000 serta Mei dan Juni 2001 ternyata sudah terjadi akumulasi merkuri pada sedimen dan bioakumlasi pada ikan dan moluska di daerah-daerah aliran sungai yang menerima buangan limbah pengolahan emas terutama di muara sungai Talawaan (salah satu sungai di kecamatan Dimembe). Kadar total merkuri di tempat yang yang menerima buangan limbah telah mencapai tiga kali ambang batas, total Hg pada moluska bahkan mencapai 0,5 mg/kg, dan pada ikan sudah terdapat sembilan ekor yang mengandung total merkuri 0,5 mg/kg berat basah.
Berdasarkan data di atas menunjuk-kan bahwa pencemaran di sekitar daerah pertambangan emas termasuk pada sungai yang mengalir di sekitarnya merupakan masalah serius dan perlu segera ditangani. Keadaan ini memerlukan tindakan penanganan yang bijaksana agar supaya ancaman terhadap lingkungan dapat diminimalisasi. Selain itu keadaan ling-kungan yang tercemar akan mengancam kehidupan flora dan fauna yang ada di sekitarnya. Ancaman ini terjadi karena pada ekosistem, di mana organisme itu hidup, terjadi aliran rantai makanan sehingga melalui rantai makanan akan terjadi aliran bahan pencemar yang pada saatnya akan tiba pada manusia sebagai bagian dari ekosistem tersebut. Masuknya merkuri dalam tubuh manusia akan menjadi ancaman serius bagi kesehatan terutama penyakit yang diakibatkan oleh logam berat. Mukono (2004) menge-mukakan bahwa terdapat beberapa pe-nyakit yang diakibatkan oleh pencemaran merkuri seperti mercurilialism, minamata disease, mad hetter’ disease.
Kegiatan pertambangan emas rakyat telah memberi kontribusi bagi penyerapan tenaga kerja dan secara langsung juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar daerah pertambangan. Berdasarkan data di kecamatan Dimembe Juli 2004 terdapat 1994 buah tromol dan menyerap tenaga kerja penambang sebanyak 2500 - 3000 orang per hari. Menurut Langkubi (2004) bahwa kegiatan penambangan telah meningkatkan pendapatan bagi masyarakat. Berdasarkan perhitungan besarnya putaran uang yang beredar di kecamatan Dimembe dari kegiatan pertambangan emas rakyat tersebut mencapai nilai minimal Rp. 30 milyar pertahun
Tujuan penelitian ini adalah untuk:  (1) mengetahui kandungan logam berat ( Hg, As, Pb) pada limbah tambang emas di Kecamatan Dimembe; (2) mengetahui kandungan nutrisi (N,P,K) pada air limbah tambang emas rakyat di kecamatan Dimembe.


METODE PENELITIAN

Karakterisasi limbah dilakukan dengan menggunakan metode deskiptif analitik yaitu suatu usaha untuk menggambarkan bagaimana karakteristik limbah dengan cara menganalisis limbah pengolahan emas yang terdapat disekitar wilayah penambangan. Karakterisasi diarahkan untuk mengetahui bagaimana konsentrasi logam berat dan nutrisi yang terkandung di dalam limbah. Logam berat diutamakan pada merkuri (Hg), arsen (As), dan timbal (Pb). Sedangkan nutrisi tumbuhan diutamakan pada unsur nitrogen, fosfor dan kalium. Sugiharto (1987) mengemukakan bahwa untuk mengetahui lebih luas tentang air limbah, maka perlu kiranya diketahui juga secara detail mengenai kandungan yang ada di dalam air limbah, serta sifat-sifat logam yang terdapat di dalamnya

Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu September 2009 s/d Oktober 2009. Tempat pengambilan sampel di lokasi pengolahan tambang emas Dimembe, analisis sampel dilaksanakan di balai riset dan standarisasi industri dan perdagangan Manado.

Alat dan Bahan
Alat yang dibutuhkan adalah seperangkat instrumen pengujian dengan metode AAS, 3 botol penampungan sampel limbah yang telah disterilkan dengan asam NaCl, alat pengambil sampel air, kamera, kotak penampungan botol. Bahan yang dibutuhkan adalah air limbah yang diambil dari buangan pengolahan emas tradisional.

Prosedur  Kerja
Air limbah buangan pengolahan emas tradisional ditampung pada 1 (satu) botol penampungan yang telah disiapkan sebagai sampel pengujian. Selanjutnya sampel air limbah tersebut dibawa ke laboratorium untuk diuji karakteristik limbah. Pengujian dilakukan menggunakan metode AAS dengan tujuan untuk menguji kandungan logam berat berupa total merkuri (Hg), arsen (As), dan timah (Pb). Selain itu dilakukan pengujian tentang kandungan nutrisi tumbuhan berupa natrium, fosfor, dan kalium.

Pengamatan
Sampel air limbah yang telah dibawa ke laboratorium diuji/dianalisis kandungan logam berat merkuri (Hg), arsen (As), Pb, dan nutrisi tumbuhan berupa N. P. K. Parameter pengamatan yaitu bagaimana konsentrasi merkuri, timbal, dan arsen, serta bagaimana konsentrasi unsur natrium, fosfor, dan kalium yang terdapat di dalam air limbah.

Analisis data
Kandungan Logam berat limbah
Untuk mengetahui kandungan logam berat yang terkandung di dalam limbah, dilakukan pengujian kandungan logam berat berupa merkuri (Hg), Arsen (As), timah (Pb). Pengujian ini menggunakan metode atomic absorbption spectroscopy (AAS). Karakterisasi limbah dilakukan dengan tujuan  agar peneliti mendapatkan gambaran bagaimana kandungan logam berat yang ada di dalam limbah, serta kandungan nutrisi tumbuhan air yang terkandung di dalam limbah.
Hasil analisis laboratorium me-nunjukkan bahwa air limbah tambang emas tradisional mengandung logam berat masing-masing berupa merkuri (Hg) 9,03 ppm, arsen (As) 0,09 ppm , dan timbal (Pb) 0,06 ppm. Konsentrasi logam berat dalam limbah pengolahan tambang emas tradisional ini  telah mengandung logam berat sebagai pencemar dengan konsentrasi masing-masing melewati ambang batas baku mutu lingkungan.

Tabel 1. Kandungan logam berat dalam limbah

Jenis logam berat
Total (mg/l)
Merkuri( Hg)
9,03
Arsen (As)
0,09
Timbal (Pb)
0,06
 

Kandungan  nutrisi
Kandungan nutrisi di dalam air akan sangat menentukan apakah tumbuhan dapat tumbuh pada kondisi air yang ada di dalamnya. Data tentang kandungan nutrisi yang terkandung di dalam air limbah akan dapat menggambarkan apakah kondisi lingkungan air memungkinkan untuk ditumbuhi tumbuhan atau tidak. Pe-manfaatan tumbuhan sebagai agen biofiltrasi akan dapat ditentukan berdasarkan kandungan air limbah yang ada. Limbah yang berasal dari lokasi pengolahan limbah dibawa ke laboratorium untuk dianalisis kandungan nutrisinya dengan menggunakan metode AAS. Kandungan  nutrisinya di utamakan pada unsur N, P, K. Berasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa limbah tambang emas tradisional mengandung unsur-unsur makro nutrient berupa nitrogen (N)545 mg/l, foefat (P) 25,58 mg/l, kalium (K) 11,67 Mg/l.

Tabel 2. Kandungan nutrisi dalam limbah

Jenis Nutrisi
Total (mg/l)
Natrium (N)
545
Phosfat (P)
25,58
Kalium (K)
11,67


Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa limbah yang diuji, walaupun sudah tercemar logam berat, tetapi masih dapat menyediakan nutrisi untuk tumbuhan air. Selain itu pengujian ini membuktikan bahwa untuk menanggulangi pencemaran di dalam air tersebut dapat menggunakan teknologi biofiltrasi.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Usaha mengadakan karakterisasi dilakukan karena diduga limbah buangan ini telah mengandung logam berat akibat dari sistim pengolahan tambang secara tradisional. Sugiharto (1987) menge-mukakan bahwa untuk mengetahui lebih luas tentang air limbah, maka perlu kiranya diketahui juga secara detail mengenai kandungan yang ada di dalam air limbah, serta sifat-sifat logam yang terdapat di dalamnya.  Penelitian yang dilakukan terhadap air limbah yang dibuang setelah digunakan sebagai pencuci pada pengo-lahan tambang emas tradisional. Dari hari analisis laboratorium dengan metode AAS ternyata kandungan logam merkuri adalah 9,035 ppm. Konsentrasi ini telah jauh melampaui ambang batas baku mutu air sungai sehingga sebelum dilepas ke lingkungan perlu adanya perlakuan (treatment) secara khusus agar kandungan logam berat dapat diminimalisasikan. Seperti diketahui bahwa air limbah dari kegiatan proses penambangan akan dibuang ke lingkungan sekitar baik di daratan, maupun dibuang langsung ke badan sungai. Menurut Kep.Men.LH bahwa baku mutu lingkungan untuk air yang digunakan untuk persawahan (sungai) adalah 0,002 ppm.
Konsentrasi logam berat berupa merkuri, arsen, dan timbal yang terdapat pada air limbah menunjukkan bahwa limbah tambang emas tradisional ini berpotensi untuk mencemari lingkungan sekitar. Khusus untuk merkuri potensi ini sangat tinggi mengingat air sungai Talawaan ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk mengairi sawah dan peternakan ikan tawar. Akibat dari kegiatan pembuangan ke sungai yang dilakukan selama ini, maka sungai Talawaan dewasa ini terancam tercemar merkuri. Rumengan et al (2004) mengemukakan bahwa berdasarkan hasil pemantauan pada tahun 2003, konsentrasi total merkuri di sungai Talawaan yang melewati daerah-daerah pengolahan emas relatif tinggi dibanding dengan sungai- sungai lainnya yang tidak melalui daerah kegiatan pengolahan emas tradisional. Tingginya kandungan merkuri yang terdapat di aliran sungai sungai Talawaan yang melewati daerah penambangan dimungkinkan karena akumulasi limbah dari beberapa titik lokasi pengolahan yang ada di sekitar wilayah penambangan. Data dari pemerintah kecamatan Dimembe juli 2004 menunjukkan bahwa terdapat 1994 buah tromol beroperasi tiap hari dengan masing-masing menggunakan 1-2 kg merkuri per hari sehingga kira-kira terdapat 200 ton merkuri yang digunakan setiap tahun Selanjutnya Limbong dkk (2004) mengemukakan estimasi junlah merkuri yang mencemari lingkungan dari penambangan emas di Kecamatan Dimembe adalah 11.232 kg-14.040 kg setiap tahunnya.  Namun demikian air sumur yang menjadi sumber air minum yang berada di daerah pengolahan tambang emas belum tercemar. Berdasarkan hasil analis kandungan merkuri di dalam air sumur adalah 0.00082 ppm jauh ai bawah baku mutu air minum yaitu 0,001.ppm yang artinya air sumur yang ada di sekitar lokasi pengolahan tambang emas tradisional masih layak untuk di konsumsi.
Penelitian lain yang telah dilakukan sebagai kegiatan awal adalah menguji nutrisi tumbuhan yang terdapat di dalam limbah. Pengujian ini penting mengingat penelitian ini menggunakan tumbuhan air sebagai agen bioremediasi. Kegiatan remediasi ini membutuhkan kondisi yang memungkinkan tumbuhan dapat hidup selang waktu tertentu untuk kegiatan penyerapan (absorbsi) logam pencemar. Canter, Larry 1997) mengemukakan bahwa langkah awal yang perlu dilakukan untuk menangani air permukaan adalah mengidentifikasi kualitas dan kuantitas air yang akan menjadi obeyek perlakuan. Hasil analisis ternyata bahwa air limbah mengandung unsur-unsur nutrisi terutama N, P K yang cukup untuk pertumbuhan. Nitrogen, fosfor bersama-sama dengan karbon merupakan nutrisi utama untuk pertumbuhan . Unsur-unsur ini apabila memasuki lingkungan air akan berperan penting pada pertumbuhan terutama pada organisme yang tumbuh di air. Apabila terlepas dalam jumlah yang melebihi kebutuhan dapat pula berperan dalam penangulangan polusi yang terjadi di sekitarnya.


KESIMPULAN

1.         Limbah tambang emas tradisional mengandung logam berat berupa merkuri, timah, dan arsen dengan konsentrasi yang melebihi baku mutu lingkungan.
2.         Limbah tambang emas mengandung nutrisi tumbuhan berupa N, P, K sehingga bahan pencemar yang terdapat dalam limbah dapat ditanggulangi dengan menggunakan tumbuhan air sebagai agen bio-remediasi.


DAFTAR PUSTAKA


Ariens,  E.,J., Mutschler E., Simonis A.M.,1993. PengantarToksikologi Umum. Gajah Mada Press, Yogyakarta.
Assa, I., 2003. Tingkat Keracunan Merkuri pada Pekerja Tambang di Desa Talawaan Kecamatan Dimembe. Tesis. Universitas Sam Ratulangi, Manado.
Bapedalda Sulut, 2002. Penelitian Tentang Limbah Merkuri di Propinsi Sulawesi Utara Selang 2002 sampai 2001.Sub.Bidang Pengendalian Pencemar Air, Bapedalda, Manado
Chen,W.Y., Anderson Paul R., Zholsen, M. T. Recovery and Recycle of Metals From Wastewater With a Magnetite-based adsorption Process. Jurnal Research Journal WPCF, Volume 63 No. 7 Tahun 1991
Chon-Lin, Lee., Tsen C.Wang., Ching-ku Lin., Hin-Kiu Mok., 1999. Heavy Metals Removal by a Promising Locally Available Aquatic Plant, Najas Graminea Del., In Taiwan. Jurnal Wat. Sci. Tech. Vol. 39, No. 10-11, 1999
Crites and Tchobanoglous., 1998.  Small and Decentralized Wastewater Management Systems. McGraaw-Hill, California
Connell, Des W., 1995. Bioakumulasi Senyawaan Xenobiotik. UI- Press, Jakarta
Dickman, D.I., Stuart, K.W., 1983. The Culture of Poplars in Eastern North America Departement of Foresty, Michigan State University, Michigan
Eckenfelder.W.W. Jr., 2003. Industrial Water Pollution Control. Mc Graw Hill, New York
EPA. 1997. Capsule Report. Aqueous Mercury Treatment. Washington DC.
EPA. 1992. Manual Wastewater Treatment/Disposal for Small Communities. September 1992. Washington DC
Eldowney  Mc. S., Hardman, D.J. Waite. 1993. Ecology and Biotreatment, pp 48-58. Longman Singapore Publisher Pte.Ltd., Singapore
Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius, Yogyakarta
Gary, N.F. 1989. Biology of Wastewater Treatment. Oxford University Press, Oxford
Gwozdz, E.A., R. Przymusinski, R. Rucinska, and J. Deckert. 1997. Plant cell responses to heavy metals: molecular and physio-logical aspects. Acta Physiol Plant. 19: 459-465
Ismoyo, I, H dan Rijaluzzaman (penyunting), 1995. Kamus Istilah Lingkungan. Penerbit Bina Rena Pariwara, Jakarta
Kamagi W.A.  Potensi dan Permasalahan Pertambangan Emas Rakyat  di Sulawesi Utara. Makalah: Seminar Pertambangan Rakyat Tingkat Nasional. Jakarta, 28-29 Juni 1989
Kambey, J.L. 2002. Influence of Illegal Gold Mining on Mercury Level In Fish Of Tatelu Area, North Sulawesi, Indonesia. Thesis. Universitas Sam Ratulangi, Manado
Langkubi, O. 2004. Usaha Pemerintah Dalam Mengatasi Dampak Pen-cemaran Pertambangan Rakyat Di Kecamatan Dimembe. Makalah. Seminar Masalah dan Solusi Penembangan emas Di Kematan Dimembe September 2004.
Limbong, D.  2004. Dampak Potensial Aktivitas Penambangan Emas Rakyat di Kecamatan Dimembe Terhadap Kesehatan Masyarakat. Makalah. Seminar Masalah dan Solusi Penembangan emas Di Kematan Dimembe September 2004.
Metdof dan Eddy. 2003. Wastewater Enginering, Treatment and Reuse. Mc Graw Hill, New York, hal.77-79
Mc.Eldowney, S., Hardman, D.J. and Waite, S. 1993. Pollutan, Ecology and Biotreatment. Longman Singapore Publisher ltd., Singapore
Mukono, H. J. 2000. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Airlangga University Press, Surabaya
Mukono H. J. 2004. Toksikologi Limbah Berbahaya dan Beracun (B3) Khususnya Logam Berat Timbal (Pb),Merkuri (Hg),dan Cadmium (Cd) serta Dampaknya Terhadap Kesehatan. FKM Unair, Surabaya
Palar, H. 1994. Pencemaran & Toksikologi Logam Berat. Rineke Cipta, Jakarta.
Prawinata, W., Haran, S. Tjondronegoro, P. 1991. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Institut Pertanian Bogor, Bogor
Rumengan I.F.M. 2004. Dampak Biologi dari Pertambangan Emas Rakyat di Daerah Aliran Sungai Talawaan, Manahasa Utara. Makalah. Seminar masalah dan solusi penambangan emas di Kecamatan Dimembe 9 September 2004.
Retno Damayanti, Selinawati T.D, Djuarsih. Pemanfaatan Abu Batubara Untuk Penetral Limbah Air Asam Tambang. Jurnal Kimia Lingkungan Vol. 2., No.1., Tahun 2000
Salisbury, F.B dan Rose C.W., 1985. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Company, California
Sastrawijaya, A., T., 1991. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta,  Jakarta.
Slamet, J, S., 1994. Kesehatan Lingkungan. Gajahmada University  Press, Yogyakarta
Sugiharto, 1997. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. UI Press, Jakarta
Surtiningsih T., 1997. Bioremidiasi Cd dan Ketersediaan P Batuan Fosfat Oleh Cendawan Ektomikorhiza (Pisolithus tinctorius dan Suillus granulatus) Dalam Kultur Murni. Jurnal. Penelitian Hayati Vol. 3. No. 2 Thn 1997, Surabaya
Untung S.R., Yayat Achmad Nur, 1999. Inventarisasi Masalah  Lingkungan Pertambangan Emas Rakyat di Daerah Wonogiri. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi,  Jakarta
Wardhana , W, A., 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit  Andi Offset, Yogyakarta
Washington Tambunan., Amal Ginting, 2000. Mercury Utilization and  Its Environmental Risk.  Indonesian Minning Journal, Journal  Vol. 6 No. 3 Oktober 2000
Watanabe, M., 1997. Phytoremediation on the Brink of Commercialization. Environ. Sci. Technol. 31:182A-186A











 


Leave a Reply

 
 

Daftar Blog Saya

Blogger news