Minggu, 11 Desember 2011

karst

Mengenal Medan Karst Mako Daerah Latihan Gabungan TNI di Kaliorang Sangatta Oleh Kepala Topdam VI/Mlw Letnan Kolonel Ctp NRP 32561 Drs. Ibnu Fatah, M.Sc. Latar Belakang Baru-baru ini Panglima TNI Jenderal TNI Joko Santosa telah meresmikan Mako Daerah Latihan Gabungan (Rahlatgab) TNI di daerah Kaliorang Sangatta Kaltim (20/9). Daerah latihan tersebut terletak di pantai timur Pulau Kalimantan seluas 27.000 hektar yang sebagian besar merupakan daerah bentang alam karst atau batuan kapur, bagian dari Pegunungan Kapur Sangkulirang. Terkait dengan itu, maka dipandang perlu bagi para prajurit untuk mengenal sedikit tentang bentang alam karst sebagai bagian dari aspek penguasaan medan. Harapannya adalah agar para prajurit TNI, terutama unsur Komandan Satuan dapat mendayagunakan semaksimal mungkin ketika berlatih dan menggunakan daerah latihan tersebut. Di lingkungan militer, pengenalan medan merupakan langkah penting dalam operasi militer, termasuk juga ketika melaksanakan latihan. Begitu pun dengan strategi dan taktik operasi militer di wilayah Indonesia, dipastikan memerlukan penguasaan medan yang memadai. Salah satu medan yang terdapat di wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bentang alam karst (batuan kapur). Mengingat bentang alam karst tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia, pemahaman tentang bentang alam karst bagi seorang prajurit, TNI dan terutama unsur Komandan Satuan, sangat diperlukan. Secara khusus bentang alam karst perlu dipahami mengingat bentang alam ini merupakan bentang alam yang unik yang berbeda dengan bentang alam lainya. Secara morfologi bentang alam karst dicirikan dengan keberadaan bukit-bukit dan gua kapur. Tulisan ini mencoba memberikan gambaran karakteristik medan bentang alam karst seperti halnya di Daerah Latihan Gabungan TNI Kaliorang Sangatta Kaltim. Diharapkan informasi tersebut dapat digunakan untuk kepentingan selama melaksanakan latihan rutin ataupun ketika misalnya sedang melaksanakan operasi militer di daerah batuan kapur pada umumnya. Bentang Alam Karst Menurut Ford dan William (2007), karst merupakan istilah dalam ilmu kebumian yang diartikan sebagai medan dengan karakteristik bentuklahan dan hidrologi (system perairan) spesifik, yang berkembang di batuan mudah larut dan mempunyai porositas sekunder yang besar (daya meloloskan air). Batuan yang dapat berkembang menjadi bentang alam karst adalah batugampingan (batugamping, dolomit, marmer), batugaram, dan gipsum. Namun demikian, sebagian karst ditemukan di kawasan berbatuan karbonat (gampingan), karena singkapan batuan karbonat lebih luas dibandingkan dengan batuan mudah larut lainnya. Ciri morfologi dari bentang alam karst adalah adalah terdapatnya cekungan-cekungan tertutup (doline, uvala), gua, lembah buta, lembah kering, dan bukit sisa yang berbentuk kerucut atau menara. Ciri-ciri spesifik dari kondisi hidrologi karst adalah terdapatnya jaringan sungai bawah tanah, telaga, langkanya atau tidak terdapatnya sungai permukaan, dan terdapatnya mataair yang besar (Sweeting, 1972; Trudgill, 1985; White, 1985; Ford dan Williams, 1989; Gielison, 1996). Bentang alam karst dapat dijumpai di hampir semua kepulauan di wilayan NKRI. Sebaran kawasan karst terbesar terdapat di Papua dan kepulauan di sekitarnya. Namun demikian jika dilihat dari persentasenya, luasan bentang alam karst terbesar terdapat di kepulauan Maluku yang mencapai 11,89%, sedangkan Pulau Sumatera memiliki bentang alam karst terkecil. Di Kalimantan bentang alam karst tersebar di sebelah timur dan timur laut dari Pulau Kalimantan, membentang dari Kab. Bulungan hingga Kab. Tanah Laut. Mencakup luasan sekitar 155898.6 atau (3.11% wilayah Kalimantan). Sebaran kawasan karst di wilayah NKRI ditunjukkan pada Gambar 1 di bawah ini. Kabupaten di wilayah Kodam VI/Mlw yang memiliki kandungan Bentang alam karst adalah Kab. Bulungan, Berau, Kutai Timur, Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas, Tabalong, Pasir, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Kota Baru, dan Tanah Laut. Tinjauan Aspek Militer Dalam sejarah militer, dicatat bahwa bentang alam karst telah dipilih dan dimanfaatkan sebagai medan tempur yang strategis. Setidak-tidaknya pengalaman selama Perang Dunia Pertama, tentara Austro-Hungaria pada saat itu telah mengambil keuntungan dari keberadaan gua di bentang alam karst Soca River. Begitu juga dengan tentara Italia yang menggunakan lembah kering untuk akses serangan. Bagi Indonesia, kita masih ingat dengan perang gerilya Pangsar Jenderal Sudirman yang mengambil tempat di wilayah pegunungan kapur selatan Pulau Jawa yang lebih dikenal dengan nama Gunung Seribu (Bahasa Jawa : Gunung Sewu). Pasca Perang Dunia ketika kita melihat sejumlah peperangan kontemporer, sekali lagi menegaskan bahwa bentang alam karst masih menjadi salah satu pilihan untuk dijadikan medan tempur. Sulitnya tentara Amerika mengalahkan gerilyawan Al-Qaeda di Afganistan timur juga disebabkan karena gerilyawan Al-Qaeda memanfaatkan jaringan gua yang ada di bentang alam karst (Zecevic dan Jugwirth, 2007) untuk persembunyian sekaligus serangan. Peperangan di timur tengah pun tidak lepas dari strategi penguasaan sumberdaya air di bentang alam karst. Kenampakan khas yang mencirikan bentang alam karst atau batuan kapur yang berpengaruh pada pertimbangan taktis dan teknis militer antara lain adanya gua-gua kapur sebagai tempat perlindungan, bukit-bukit kapur berbentuk menara atau kerucut, langkanya sumber air permukaan serta adanya lembah kering sebagai akses/jalan pendekat. Berikut ini penjelasan singkat tentang karakteristik tersebut. Gua-gua Kapur Keberadaan gua-gua kapur sebagai tempat perlindungan. Ciri morfologi bentang alam karst yang paling mudah dikenali adalah keberadaan gua. Gua merupakan hasil dari proses pelarutan batugamping sepanjang kekar (retakan batuan), bidang perlapisan batuan, dan mintakat (zone) dekat muka air tanah. Gua dapat dijumpai dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bentuk lorong bervariasi dari mendatar, miring, hingga vertikal. Besar lorong pada umumnya sangat bervariasi. Mulut gua yang sempit tidak berarti mengindikasikan lorong gua yang sempit. Sangat sering dijumpai di lapangan, ruangan-ruangan gua yang besar (chamber) ditemukan pada gua yang mempunyai mulut yang sempit. Ruangan gua terluas yang sudah diketahui saat ini dijumpai di Sarawak (Lubang Nasib Bagus) yang mencapai luasan 28 ha atau kurang lebih 28 kali lapangan bola. Gua-gua kapur di daerah latihan gabungan TNI Kaliorang Sangatta Kaltim oleh penduduk setempat dikenal dengan nama liang, salah satunya yang terkenal adalah Liang Pe Malawan. Gua merupakan persembunyian dan tempat perlindungan yang paling ideal dalam taktik gerilya. Keberadaan gua sering tidak dapat dikenali dari permukaan karena tertutup oleh vegetasi dan pepohonan yang lebat. Ruang gua sering berukuran sangat besar yang dapat menampung satu regu maupun satu kompi. Gua juga dapat saling berhubungan satu dengan yang lain, bahkan tembus dari satu mulut gua ke mulut gua yang lain. Di beberapa tempat, lorong gua juga memiliki sumber air dalam bentuk genangan (static pool) maupun aliran sungai bawah tanah. Static pool merupakan akumulasi air yang berasal perkolasi atau tetesan air dari atap gua. Contoh pemanfaatan gua untuk kepentingan perang ditunjukkan pada Gambar 3. Bukit Kapur dan Medan Terbuka Bukit-bukit kapur sebagai medan kritik. Ciri morfologi kedua yang sering dijumpai di bentang alam karst adalah bukit-bukit karst yang berbentuk kerucut atau menara. Bukit-bukit karst merupakan bagian batugamping yang belum terlarut (terkikis). Bukit-bukit di lapangan terlihat sambung-menyambung dan sangat rapat. Karena keterdapatan bukit yang rapat dan jumlah yang sangat banyak inilah, kawasan karst di beberapa daerah di Indonesia disebut dengan Gunung Seribu (Jawa : Gunung Sewu). Jika diamati dari foto udara, bukit-bukit karst pada umumnya berjajar atau melingkar mengelilingi lembah kering atau cekungan tertutup. Medan yang terbuka relatif luas diperlukan dalam operasi militer untuk kepentingan Pos Komando Utama maupun penempatan Patobrig. Medan yang relarif luas di bentang alam karst pada umumnya berupa polje. Polje merupakan dataran di bentang alam karst yang salah satu atau kedua sisinya dibatasi oleh tebing terjal (Ford dan Williams, 2009). Di sisi-sisi tebing terjal di sisi polje pada umumnya juga terdapat pemunculan mataair atau tempat masuknya sungai permukaan ke dalam jarigan sungai bawah tanah. Polje pada umumnya mempunyai material dasar endapan aluvium, yaitu endapan hasil erosi tanah dari lereng-lereng perbukitan di sekitarnya. Air tanah di poje pada umumnya dangkal . Polje dapat dijumpai di pinggiran kawasan karst maupun di tengah-tengah kawasan karst. Medan terbuka dengan ukuran yang lebih kecil di bentang alam karst adalah uvala. Uvala merupakan gabungan dari doline-doline. Diameter uvala dapat mencapai satu kilometer. Jika polje pada umumnya berbentuk dataran yang memanjang, uvala di daerah tropis pada umumnya berbentuk seperti bintang (tampak atas). Dasar uvala pada umumnya merupakan tempat akumulasi sedimen hasil erosi dari perbukitan di sekitarnya. Permukaan tanah relatif datar, ketebalan tanah dapat mencapai lebih dari dua meter. Keterdapatan Sumber Air Ciri ketiga adalah secara hidrologis bentang alam karst menampakkan langkanya sumber air permukaan. Sebagian besar air berada di bawah tanah sebagai sungai bawah tanah. Sungai permukaan jarang dijumpai di bentang alam karst. Langkanya air permukaan di bentang alam karst disebabkan oleh rongga-rongga hasil perlarutan membentuk porositas sekunder. Rongga-rongga hasil pelarutan dapat dikenali di lapangan dengan mudah melalui keberadaan singkapan batuan yang berlubang-lubang. Di dasar cekungan tertutup rongga-rongga pelarutan dapat berdiamater lebih dari satu meter membentuk gua vertikal. Rongga-rongga pelarutan tersebut merupakan tempat masuknya aliran permukaan ke dalam jaringan sungai bawah tanah. Persentase air hujan yang tertinggal sebagai aliran permukaan (koofisien runoff) di bentang alam karst hanya berkisar antara 5 hingga 28 persen (MacDonald, 1983; Setyahadi, 2003). Mata air dijumpai sebagai pemunculan sungai bawah tanah ke permukaan. Pemunculan mataair di bentang alam karst sering berasosiasi dengan lembah kering (Haryono dkk, 2005; Kusumayuda dan Zen, 2000; Kresic, 1995; Parizek, 1976). Hal ini dikarenakan lembah kering di bentang alam karst terkontrol oleh struktur geologi yang berupa sesar atau kekar. Peluang terbesar ditemukan mataair pada umumnya di ujung-ujung lembah kering yang paling lebar dan panjang. Sumber air di bentang alam karst juga dapat dijumpai di mataair-mata air epikarst, yaitu mata air yang muncul di mintakat dekat permukaan dari bentang alam karst. Matair ini muncul di lereng-lereng atas perbukitan karst. Mataair ini bukan merupakan pemunculan sungai bawah tanah, tetapi hanya pemuculan pada bidang-bidang perlapisan, sehingga mataair ini pada umumnya mempunyai debit yang kecil dengan kualitas air yang baik. Mataair tipe ini sulit diidentifikasi dari citra penginderaan jauh. Sumber air permukaan yang dapat dijumpai di bentang alam karst adalah telaga. Telaga terbentuk di dasar-dasar doline. Air telaga sebagian besar mempunyai kualitas air kelas III yang tidak dapat digunakan untuk bahan baku air minum. Air telaga pada umumnya sangat keruh, terutama pada saat musim penghujan. Namun demikian pada kondisi darurat air telaga dapat digunakan dengan terlebih dahulu mengendapkan material tersuspensi dengan cara mendiamkan lebih dari 24 jam. Lembah Kering Ciri morfologi terakhir bentang alam karst adalah adanya lembah-lembah kering sebagai jalan pendekat. Lembah dan cekungan tertutup dihasilkan oleh proses pelarutan yang lebih intensif dari daerah sekelilingnya. Lembah-lembah karst pada umumnya tidak berair. Lembah yang tidak pernah berair ini dikenal dengan sebutan lembah kering. Di beberapa tempat, lembah karst hanya dialiri air pada saat hujan. Aliran air kemudian masuk ke dalam gua dan menghilang ke sistem jaringan sungai bawah tanah. Sungai-sungai bawah tanah di kawasan karst terkadang muncul kembali di permukaan. Mobilisasi perlatan tempur ataupun gerilya di bentang alam karst pada umumnya sangat berat. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya medan yang datar, sehingga melintas di bentang alam karst harus naik turun bukit yang sambung menyambung. Kondisi ini menyulitkan pergerakan peralatan perang angkatan darat. Medan yang paling mudah dilewati di bentang alam karst adalah lembah kering. Lembah kering dalam terminologi ilmu kebumian sering disebut dengan koridor, karena lembah kering dapat menghubungkan tempat satu dengan lainya. Dasar lembah kering pada umumnya datas atau landai. Pada kondisi terbuka (tidak berhutan), lembah kering dapat dilalui oleh semua kendaraan militer. Penutup Karakteristik medan untuk kepentingan operasi militer dalam tulisan ini hanya memberikan ciri umum yang pada umumnya dijumpai di bentang alam karst. Variasi karakteristik medan antara kawasan karst satu dengan yang lainnya dipatikan akan selalu dijumpai di lapangan. Karakteristik medan yang penting harus diperhitungkan dalam operasi militer di bentang alam karst terutama adalah langkanya air permukaan, keberadaan gua untuk kepentingan lindung, bukit-bukit kapur sebagai medan kritik dan keberadaan lembah kering untuk akses utama. Posted by rhsukarsa at 9/11/2010 08:27:00 PM 0 comments Links to this post Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook Labels: TNI AD Reactions: Navy to Christen USNS Washington Chambers USNS Washington Chambers (T-AKE 11). (Photo: meetup.com) 10 September 2010, WASHINGTON (NNS) -- The Navy will christen and launch the dry cargo/ammunition ship USNS Washington Chambers (T-AKE 11), Sept. 11 during a 10 a.m. PDT ceremony at the General Dynamics NASSCO shipyard in San Diego. The ship is named to honor naval aviation pioneer Capt. Washington Chambers. Rear Adm. Richard J. O'Hanlon, commander, Naval Air Force Atlantic, will deliver the ceremony's principal address. Loretta Penn, wife of former Assistant Secretary of the Navy for Installations and Environment and former Acting Secretary of the Navy, B.J. Penn, is the sponsor, and in accordance with Navy tradition, will break a bottle of champagne across the bow to formally christen the ship. Continuing the Lewis and Clark-class tradition of honoring legendary pioneers and explorers, the Navy's newest underway replenishment ship recognizes Chambers for his major role in the early development of naval aviation. Responsible for the Navy's emerging aviation activities, Chambers arranged the world's first airplane flight from a warship. The Nov. 14, 1910, flight by aviator Eugene Ely on the light cruiser USS Birmingham (CL 2) confirmed the potential of carrier-based naval aviation. Designated T-AKE 11, Washington Chambers is the 11th ship of the 14-ship class. As a combat logistics force ship, Washington Chambers will help the Navy maintain a worldwide forward presence by delivering ammunition, food, fuel and other dry cargo to U.S. and allied ships at sea. T-AKE 11 is the first Navy ship named after Chambers. As part of Military Sealift Command's Naval Fleet Auxiliary Force, Washington Chambers is designated as a U.S. naval ship and will be crewed by 129 civil service mariners and 11 Navy sailors. The ship is designed to operate independently for extended periods at sea and can carry two helicopters. The ship is 689 feet in length, has an overall beam of 106 feet, has a navigational draft of 30 feet, displaces approximately 42,000 tons and is capable of reaching a speed of 20 knots using a single-shaft, diesel-electric propulsion system. US DoD Kawasan Karst dan Pengembangannya Posted on Juni 5, 2008 by pramana Tjahyo Nugroho Adji, Eko Haryono, Suratman Woro * * disampaikan dalam Seminar PIT IGI di Universitas Indonesia, 26-27 Oktober 1999 ABSTRAKSI Keberadaan kawasan karst di Indonesia, akhir-akhir ini dianggap memiliki nilai-nilai yang sangat strategis. Selain karena mencakup hampir 20 % luas dari total seluruh wilayah di Indonesia, karst memiliki potensi yang bukan saja unik tetapi juga sangat kaya dengan sumberdaya alam baik itu hayati maupun non hayati. Adanya hubungan sistem eksokarst dan endokarst, kenampakan spesifik seperti bukit-bukit karst dan doline, serta fenomena menakjubkan yang terdapat pada goa dan system pergoaannya selalu mengundang rasa ingin tahu dari kalangan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu. Bahkan salah satu kawasan karst di Indonesia yang dikenal sebagai Gunung Sewu pernah didengungkan akan dicalonkan sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) karena keunikannya. Benturan kepentingan akibat melebarnya tekanan penduduk serta kebutuhan-kebutuhan dasar yang menyertainya juga mengimbas pada kawasan karst. Kekayaan bentang lahan karst yang didominasi oleh batuan karbonat merupakan bahan tambang yang sangat potensial. Maraknya pabrik semen pada kawasan ini akan berakibat hilangnya monumen dunia yang membutuhkan ribuan tahun untuk membentuknya. Kasus terakhir adalah disahkannya AMDAL pendirian pabrik semen Gombong yang berlokasi pada suatu kawasan karst yang diakui oleh para karstologist dan speleologist termasuk kawasan karst yang lengkap dan unik. Dari segi keilmuan kawasan karst merupakan suatu kawasan yang tidak akan pernah kehabisan obyek untuk penelitian. Fenomena bentang lahan permukaan karst yang sangat unik, fenomena bawah permukaan berupa sistem pergoaan dan sungai bawah tanah merupakan obyek yang sangat menarik untuk diteliti. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal didalamnya yang juga unik karena mampu bertahan pada kondisi water table yang sangat dalam, dan hanya dapat memperoleh air dari goa serta mataair juga menarik untuk selalu dikaji. Sumber daya alam lain yang dapat dikaji adalah beragamnya flora dan fauna yang khas seperti burung walet dan kelelawar, misalnya. Akhirnya makalah ini mengungkapkan pentingnya dibentuknya komisi karst IGI yang bertujuan untuk menghimpun para geografiwan Indonesia yang tertarik pada kawasan ini untuk lebih mengembangkan, meneliti dan berdiskusi untuk memecahkan masalah-masalah yang terdapat didalamnya dalam konteks disiplin ilmu geografi dan diharapkan akan dapat terus bersama-sama mengembangkan keilmuan karst di Indonesia. PENDAHULUAN Keberadaan kawasan karst di Indonesia, dewasa ini dianggap memiliki nilainilai yang sangat strategis. Di seluruh wilayah kepulauan Indonesia, luas kawasan karst mencapai hampir 20 % dari total luas wilayah. Nilai-nilai strategis yan dimaksud, selain merupakan kawasan sebagai pemasok dan tandon air untuk keperluan domestik (PBB memperkirakan persediaan air sekitar 25 % penduduk dunia merupakan sumber air karst, Ko 1997), juga mempunyai sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan menambah devisa negara seperti pariwisata, penambangan bahan galian, penghasil sarang burung walet, bahkan sangat terkaitpula dengan bidang HANKAM/militer, serta intelijen. Disamping beberapa nilai strategis diatas, oleh para ilmuwan/scientist, kawasan karst dianggap sebagai laboratorium alam yang sarat akan obyek-obyek yang dapat dikaji/diteliti. Banyak hasil penelitian skripsi, thesis, maupun disertasi, telah dihasilkan oleh kawasan ini pada berbagai macam disiplin ilmu. Setiap tahunselalu ada saja para karstolog, baik asing maupun domestik yang berkunjung untuk melakukan riset. Dari pernyataan ini dapat dilihat betapa besar sumbangan kawasan karst dalam dunia ilmu pengetahuan. Oleh para penelusur goa, yang jumlahnya semakin banyak, kawasan karst dengan goa-goa bawah tanah yangdapat ditelusuri dianggap sebagai lahan petualangan mereka, untuk menikmati fenomena bawah permukaan yang menakjubkan, tentu saja tanpa meninggalkanazas-azas konservasi goa. TERMINOLOGI Istilah karst yang dikenal di Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya adalah ‘krst / krast’ yang merupakan nama suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota Trieste. Moore and Sullivan (197 8) menyebutkan bahwa istilah karst diperoleh dari bahasa Slovenia, terdiri dari kar (batuan) dan hrast (oak), dan digunakan pertama kali oleh pembuat peta- peta Austria mulai tahun 1774 sebagai suatu nama untuk daerah berbatuan gamping berhutan oak di daerah yang bergoa di sebelah Barat laut Yugoslavia dan sebelah Timur Laut Italia. Beberapa ilmuwan lain menyebutkan pula bahwa asal mula ditemukannya daerah yang akhirnya dinamakan karst adalah karena akibat adanya perumputan (grassing) oleh ternak-ternak pada suatu kawasan, sehingga tersingkaplah batuan dan fenomena didalamnya yang ternyata sangat khas dan unik. Istilah karst ini akhirnya dipakai untuk menyebut semua kawasan berbatuan gamping di seluruh dunia yang mempunyai keunikan dan spesifikasi yang sama, karena proses pelarutan (solusional), bahkan berlaku pula untuk fenomena pelarutan pada batuan lain seperti gypsum, serta batuan garam dan anhidratnya. Beberapa istilah dalam karst yang juga diambil dari daerah ini diantaranya adalah bentukan Polje yang merupakan nama suatu kota di Yugoslavia, Beberapa istilah bentukan karst yang lain diantaranya adalah bukit dan tower karst, diaklas, pinacle, cockpit, uvala, doline, sinkhole, goa, lapies, speleothem, sungai bawah tanah, dll. Beberapa ahli menggunakan karst sebagai istilah untuk medan dengan batuan gamping yang dicirikan oleh drainase permukaan yang langka, solum tanah tipis dan hanya setempat-setempat, terdapatnya cekungan-sekungan tertutup (dolin), dan terdapatnya sistem drainase bawah tanah (Summerfield, 1991). Ford dan Wiliam (1996) mendefinisikan secara lebih umum sebagai medan dengan karakteristik hidrologi dan bentuklahan yang diakibatkan oleh kombinasi dari batuan mudah larut dan mempunyai porositas sekunder yang berkembang baik. Karst sebenarnya tidak hanya terjadi di batuan karbonat, namun sebagian besar karst berkembang di batugamping. Ciri utama kawasan karst adalah terdapatnya cekungan-cekungan tertutup yang disebut sebagai dolin. Apabila dolin saling menyatu membentuk uvala. Di beberapa tempat, dolin dapat terisi air membentuk danau dolin. Kenampakan permukaan daerah karst selain doline dan uvala adalah polje, ponor, pinacle, menara karst, atau kubah karst. Kombinasi dolin dan kubah menyebabkan panorama karst menjadi unik dengan bukit-bukit yang terhampar luas. Keunikan lain dari kawasan karst adalah keberadaan goa dan sungai bawah tanah. Goa-goa tersebut pada umumnya bertingkat dengan ukuran kurang dari satu meter hingga ratusan meter persegi dengan bentuk vertikal miring maupun horisontal. Goa-goa karst hampir semuanya dihiasi dengan ornamen (speleothem) yang sangat beragam dari mulai yang sangat kecil (helectite) hingga yang sangat besar (column) dengan bentuk dan warna yang bervariasi. SEBARAN KARST DI INDONESIA Sebagian besar kawasan karst di Indonesia tersusun oleh batuan karbonat, dan hampir tidak ada yang tersusun oleh batuan lain seperti gipsum, batugaram, maupun batuan evaporit. Hampir di setiap pulau di Indonesia memiliki batuan karbonat, tapi tidak semuanya terkartsifikasi menjadi kawasan karst. Menurut Balazs (196 8) terdapat 17 lokasi yang dapat dikategorikan sebagai kawasan karst. Karst di indonesia seperti yang ditulis oleh Balazs tersebar di sebagian besar pulau-pulau di Indonesia, namun demikian tidak semuanya berkembang dengan baik. Balazs (196 8) selanjutnya mengidentifikasi terdapat tujuhbelas kawasan karst mayor di Indonesia seperti ditunjukkan pada Lampiran 1. Diantara kawasan karst tersebut, terdapat dua kawasan karst yang paling baik dan dianggap sebagai prototipe dari karst daerah tropis, yaitu karst Maros dan Gunung Sewu. Karst Maros dicirikan dengan berkembangnya Menara Karst (Mogote), yaitu bentukan positif dengan dinding-dinding terjal yang relatif tinggi. Ketinggian dari muka laut berkisa antara 300 – 550 meter, sedangkan relief bervariasi dari 100 – 250 meter. Batuan gamping di karst Maros diendapkan pada Eosen. Luas karst Maros secara keseluruhan mencapai 650 km2 dengan intikarst sekitar 300 km2. Karst Gunung Sewu dicirikan dengan berkembangnya kubah karst (Kegle Karst), yaitu bentukan positif yang tumpul, tidak terjal atau sering diistilahkan kubah sinusoidal (Lehman, 1936). Ketinggian tempat berkisar antara 300 – 500 meter dari muka laut dan relief bervariasi antara 50 – 150 meter. Batuan gamping di Karst Gunung Sewu berumur Miosen dan mengalami karstifikasi mulai akhir pliosen hingga awal pleistosen. Karst gunung sewu juga dicirikan dengan bentukan doline yang setiap musim penghujan selalu terisi air yang kemudian disebut telaga, yang jumlahnya ratusan. Luas karst Gunung Sewu mencapai 3300 km2 yang meliputi Propinsi DIY, Jawa Tengah, dan Propinsi Jawa Timur. SUMBERDAYA ALAM KARST Sumberdaya mineral Salah satu sumberdaya mineral yang terbesar di kawasan karst Indonesia adalah batuan kerbonat. Batuan karbonat merupakan sumberdaya mineral yang penting baik sebagai bahan bangunan, batu hias, dan industri. Sebagai bahan bangunan batuan karbonat digunakan untuk fondasi rumah, jalan, jembatan, dan isian bendungan. Pemanfaatan terbesar batugamping di Indonesia adalah sebagai bahan baku semen. Penambangan batu gamping di Indonesia telah dilakukan besar-besaran di Cibinang, Gresik, Tuban, Nusakambangan, Gombong, Padang, dan Tonasa. Untuk memproduksi satu ton semen diperlukan paling sedikit satu ton batugamping di samping lempung dan kuarsa. Batuan karbonat juga digunakan sebagai bahan baku industri dalam pembuatan karbid, peleburan baja, bahan pemutih, soda abu, penggosok, pembuatan logam magnesium, pembuatan alumina, plotasi, pembasmi hama, penjernih air, bahan pupuk, dan keramik. Manfaat batuan karbonat terutama marmer yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai batu hias, yaitu sebagai lantai, dinding, atau cindera mata. Sumberdaya lahan Sumberdaya lahan di kawasan karst tidak begitu besar, namun demikian nilai manfaatnya sangat berarti bagi penduduk yang tinggal di tempat tersebut sebagai penghasil bahan pangan sehari-hari. Lahan yang berpotensi cukup tinggi di kawasan karst adalah di lembah-lembah atau dolin pada daerah karst. Potensi lahan semakin lebih baik apabila proses-proses fluvial mulai bekerja disamping proses solusional. Tanah yang berkembang di lembah-lembah atau dolin pada umumnya terarosa dengan tektur lempungan, kedalaman sedang, warna kemerahmerahan. Lahan di kawasan karst, terutama di daerah lembah dapat ditanami tanaman semusim lahan kering atau sawah tadah hujan. Disamping itu, lahan di daerah tersebut sangat sesuai untuk tanaman jati. Beberapa komoditas pertanian lain saat ini banyak diusahakan oleh masyarakat walaupun tidak sebaik di dataran aluvial, seperti jambu mete dan tanaman buah. Sumberdaya air Sifat akifer karst yang unik dan sukar untuk diprediksi, akifer yang berupa lorong konduit, permeabilitas batuan yang tidak seragam, serta banyaknya retakan yang menyebabkan terjadinya kebocoran-kebocoran dalam satuan tubuh perairan karst merupakan suatu hal yang menantang untuk diteliti serta dikaji lebih dalam. Akifer yang unik menyebabkan sumberdaya air di kawasan karst terdapat sebagai sungai bawah tanah, mataair, danau dolin/telaga, dan muara sungai bawah tanah (resurgence). Kawasan karst disinyalir merupakan akifer yang berfungsi sebagai tandon terbesar keempat setalah dataran aluvial, volkan, dan pantai. Walaupun saat ini dirasa masih terlalu mahal untuk memanfaatkan sungai bawah tanah, dimasa mendatang akifer karst merupakan sumber air yang dapat diharapkan. Kawasan karst Kabupaten Gunung Kidul misalnya memiliki danau dolin mencapai ratusan buah, sedangkan jumlah mataair dan sungai bawah tanah mencapai 178 buah. Sumberdaya air di kawasan karst pada umumnya belum dimanfaatkan, baik sebagai sumber air baku maupun sebagai budidaya perairan. Danau dolin di Kabupaten Gunung Kidul misalnya belum dimanfaatkan untuk aqua kultur. Demikian halnya dengan mata air, pada umumnya mataair terutama di daerah karst belum dimanfaatkan dengan optimal. Mata air epikarst dikenal menurut studinya Linhua (1996) mempunyai kelebihan dalam hal: 1. Kualitas air. Air yang keluar dari mataair epikarst sangat jernih karena sedimen yang ada sudah terperangkap dalam material isian atau rekahan. 2. Debit yang stabil. Mataair yang keluar dari mintakat epikarst dapat mengalir setelah 2-3 bulan setelah musim hujan dengan debit relatif stabil. 3. Mudah untuk dikelola. Mataair epikarst umumnya muncul di kaki-kaki perbukitan, sehingga dapat langsung ditampung tanpa harus memompa. Sumberdaya hayati Sumberdaya hayati di kawasan karst tidaklah melimpah, hal ini disebabkan tipisnya tanah dan langkanya air tanah di kawasan tersebut. Kawasan karst dikenal dengan daya tahannya (resilience) yang rendah terhadap perubahan atau gangguan (Gillieson, 1997). Namun demikian kawasan karst yang belum terjamah oleh aktivitas manusia pada umumnya berhutan lebat dengan segenap satwa penghuninya, seperti Karst di Irian Jaya yang mencapai ketinggian di atas 4.000 meter dari muka laut. Gunung Kidul yang saat ini gersang dilaporkan oleh Junghuhn (1845) dulunya merupakan hutan yang lebat. Sekalipun telah gundul di kawasan karst Gunung Kidul dijumpai jenis satwa dan fauna yang sangat beragam. Satwa kawasan karst Gunung Sewu yang khas dijumpai diantaranya adalah walet, kelelawar, dan ular kobra. Sumberdaya hayati kawasan karst terutama yang telah berkembang menjadi karst yang menonjol adalah kehidupan hayati di ekosistem goa. Walaupun tidak melimpah, kehidupan gua memiliki arti penting terutama dalam ilmu pengetahuan. Ekosistem goa telah menjadi obyek kajian yang menarik bagi ahli ilmu biologi untuk mempelajari pola adaptasi fauna dari lingkungan terang ke lingkungan gelap abadi. Disamping itu, goa merupakan habitat burung Walet dengan sarangnya yang sangat mahal nilai jualnya. Sumberdaya lansekap Lanksekap di kawasan karst mempunyai nilai keindahan dan keunikan yang tinggi, baik di permukaan (eksokarst ) maupun bawah permukaan (endokarst). Di permukaan, kawasan karst dihiasi oleh ribuan kubah-kubah karst atau menara karst dengan sesekali ditemukan ngarai yang terjal, dolin, dan danau dolin. Keindahan panorama karst juga dapat dijumpai apabila karst berbatasan dengan laut dengan membentuk tebing-tebing terjal (clift). Keindahan di bawah permukaan kawasan karst didapatkan pada goa-goa beserta ornamennya. Goa-goa tersebut dapat berupa goa vertikal (shaft), cimne, maupun goa horinsontal. Sedangkan ornamen (speleothem) yang dimiliki goa sangat bervariasi baik bentuk, warna, dan ukurannya. Keunikan lain dari goa adalah terdapatnya ruangan bawah tanah (chamber) dan sungai di beberapa goa dengan bendungan alamnya. Luas ruangan bawah tanah bisa mencapai satuan hektar, walaupun dipermukaan hanya berdiameter satu atau dua meter. PERMASALAHAN Kawasan karst dikenal sebagai suatu lingkungan yang memiliki daya dukung sangat rendah, dan tidak dapat diperbaiki jika telah mengalami kerusakan. Karena sifatnya, daerah karst dapat disebut merupakan daerah yang sangat rentan, atau peka terhadap pencemaran. Hal ini disebabkan banyaknya rekahan (joint) pada batuan gamping penyusun topografi karst sehingga pori-pori yang besar, permeabilitas sekunder yang tinggi, derajat pelarutan batuan yang tinggi, menyebabkan terjadinya lorong-lorong conduit yang merupakan sungai bawah tanah, sehingga masukan sekecil apapun akan diterima dan terperkolasi melaui pori-pori dan memasuki lorong-lorong sungai bawah tanah dan tersebar dengan mudah. Kawasan karst dapat dilihat sebagai suatu ekosistem, yang didalamnya terdapat hubungan interaksi dan interdependensi antar lingkungan fisik, non fisik, hayati dan non hayati, serta biogeokimia baik itu pada eksokarst, maupun endokarst yang senantiasa berhubungan. Hal ini menunjukkan bahwa sangat mudahnya lingkungan karst itu rusak, bila salah satu komponen penyusunnya rusak atau tercemar. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa lingkungan karst mempunyai daya dukung yang sangat rendah.Karena sifatnya itu, daerah karst Gunung Sewu memiliki kerentanan yang sangat tinggi. Benturan kepentingan untuk melakukan konservasi serta tekanan penduduk untuk memanfaatkan sumberdaya alam karst pada akhirnya menimbulkan beberapa permasalahan degradasi lahan karst yang terinventarisasi sebagai berikut: 1. Kegiatan Penambangan Kegiatan penambangan di kawasan karst sudah dapat dikatakan sangat intensif. Penambangan pada kawasan karst sudah menjadi kegiatan industri, baik itu yang berskala kecil, sedang, dan besar seperti pabrik semen. Umumnya, kegiatan penambangan adalah penambangan terhadap batu gamping yang mengikis kubah-kubah karst. Efek yang terjadi sebagai akibat kegiatanpenambangan diantaranya adalah Penurunan indeks keanekaragaman hayati , Erosi dan sedimentasi, Penurunan tingkat kesuburan tanah, Perubahan bentang alam/ lahan, dan Pencemaran badan udara dan perairan 2. Penebangan vegetasi Kegiatan penebangan di karst Gunung Sewu sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Hasilnya dapat dilihat bahwa sekarang sebagian besar wilayah ini merupakan lahan kritis dan gundul. Beberapa hal yang diakibatkan oleh penebangan vegetasi adalah :P enurunan penguapan (evapotranspirasi), Peningkatan kadar C02 dalam tanah, Peningkatan permeabilitas tanah permukaan (topsoil), dan menurunnya permeabilitas subsoil. Beberapa akibat ini dapat menyebabkan akibat yang lebih destruktif lagi, yaitu tingkat erosi permukaan yang sangat tinggi, yang pada akhirnya hilangnya lapisan tanah. Pembusukan akar-akar pohon yang terjadi telah mengakibatkan berkurangnya fungsi tanah sebagai pengikat untuk menjaga kestabilan lereng. 3. Peternakan. 4. Pembangunan jalan raya. 5. Aktivitas domestik lain. Beberapa hal diatas sebagian sudah merusak ekosistem karst yang ada. Degradasi yang ada akan menurunkan tingkat sumberdaya, baik sumberdaya air maupun sumberdaya lahannya. Berdasarkan masalah yang ada, perlu adanya inventarisasi masalah, inventarisasi sumberdaya lahan, sumberdaya air, untuk kemudian dikelompokkan sesuai dengan tingkat dan intensitasnya. KONSERVASI DAN PERUNDANG-UNDANGAN Pengertian Konservasi Sumberdaya Alam menurut UU LH no 4 tahun 1984 adalah pengelolaan sumberdaya alam yang menjamin pemanfaatan secara bijaksana, dan abagi sumberdaya alam terbaharui menjamin keseimbangan persediaan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai keanekaragamannya. Dari pengertian ini tampak secara harfiah bahwa kawasan karst dengan segala kerentanannya layak untuk diprioritaskan sebagai kawasan konservasi. Peraturan perundangan lain yang berkaitan dengan konservasi kawasan karst diantaranya adalah PP Ri No;28 tahun 1985 tentang perlindungan hutan dimana goa, baik yang berada pada kawasan hutan maupun non hutan dikelola oleh departemen Kehutanan bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Untuk mengatur pertambangan di kawasan karst ada pula UU no 11 tahun 1967, Peraturan Menteri pertambangan dan Energi no.04/P/M/1977, serta PP no 51 mengenai AMDAL. Semua peraturan perundang-undangan ini mendukung konservasi kawasan karst. Penataan kawasan konservasi karst tidak akan bisa dilaksanakan tanpa mengetahui data-data dari segala aspek yang ada pada kawasan ini, yang mencakup aspek eksokarst, endokarst, maupun sistem antar keduanya. Tabel 2 berikut ini merupakan contoh penataam ruang karst berdasar tipologi kawasan karst. TABEL 2. ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN KARST MINTAKAT KARAKTERISTIK FUNGSI UTAMA KEGIATAN Holokarst Karst berkembang baik, semua ciri-ciri karst (ponor, dolin, uvala, kubah atau menara karst, go-goa, dan sungai bawah tanah) dapat ditemukan Fungsi lindung Bentangalam dan ekosis-tem yang ada di dalamnya harus tetap dipertahankan keasliannya. Telah berpenghuni Wisata, pertanian terbatas, perikanan danau dolin, permukiman terbatas Belum berpenghuni Wisata terbatas Mesokarst Karst tidak berkembang dengan baik, kenampakan karst (ponor, dolin, uvala, kubah atau menara karst, goa-goa, dan sungai bawah tanah) jarang ditemukan Fungsi penyangga Bentang alam dapat dirubah dengan pertimbangan ketat Pertanian, perikanan, tambang, permukiman atau industri dengan skala kecil Non karst Batuan karbonat tidak mempunyai ciri-ciri karst Fungsi budidaya Semua kegiatan dapat dilakukan PROSPEK Di Indonesia, faktor ekstern karst (eksokarst) lebih banyak digeluti oleh para geologist dan geomorfologist, dan faktor intern (endokarst) oleh para speleologist. Perkembangan aktivitas yang dimulai sekitar awal 1980 dipelopori oleh penggemar penelusuran goa yang tergabung dalam Specavina, yang kemudian menjadi embrio dari Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI) yang berkedudukan di Bogor. Memang pada kenyataannya aktivitas kegiatan pada kawasan karst lebih banyak dilakukan oleh para penggemar kegiatan alam bebas yaitu penelusur goa (caver). Hampir di setiap propinsi mempunyai perhimpunan penggemar alam bebas yang berbasis pada kegiatan caving ini. Dari segi eksokarst, perkembangan aktivitas di Indonesia dirasakan lebih lambat ataupun tidak tersedianya perhimpunan yang mengkoordinir kegiatan ataupun riset. Pada sekitar tahun 1997 berdirilah Masyarakat Pemerhati Karst Indonesia (MAKARTI) yang dilanjutkan dengan Perhimpunan Ekokarstologi Indonesia (PEKINDO), yang bertujuan untuk menghimpun kegiatan yang berkaitan dengan kawasan karst secara nasional. Dua organisasi inidiharapkan akan mampu menjembatani pemerhati endokarst maupun eksokarst. Dari segi keilmuan, penelitian-penelitian tentang kawasan karst di Indonesia telah cukup berkembang baik. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan baik oleh pribadi, institusi pendidikan, lembaga – lembaga pemerintah, LSM, maupun penggemar kegiatan alam bebas. Obyek dan materi penelitian telah meluas menjadi beberapa cabang ilmu diantaranya sebagai berikut : Hidrologi dan hidrospeleologi karst, Geomorfologi karst, Litologi karst, Startigrafi kawasan karst, Peleontologi karst, Arkeologi karst, Biospeleologi karst, Ekologi karst, Speleogenesis, Konservasi karst, Perlindungan burung walet dan kelelawar, Vegetasi karst, Sosiobudaya karst, Undang-undang kawasan karst, Penelusuran goa dan cave rescue, Pedologi karst, Pemetaan goa, Foto udara dan remote sensing kawasan karst, Tata Ruang karst, dll Melihat banyaknya perhatian dan riset pada berbagai cabang ilmu yang berkaitan dengan kawasan karst di Indonesia ,patut kiranya diambil kesimpulan bahwa kawasan karst di Indonesia merupakan obyek yang sangat menarik untuk riset dan sangat kaya akan permasalahan serta karakteristik yang potensial untuk diteliti. PENUTUP Demikian beberapa hal mengenai karst di Indonesia, tipical karst termasyur dari kawasan karst Gombong ,Gunung Sewu, serta Maros dan tempat lain , masih berupa teka-teki yang menantang untuk dikaji lebih dalam. Tantangan untuk mewujudkan karst sebagai kawasan konservasi terbentang untuk melestarikan monumen dunia ini. International Geography Union (IGU) melalui komisi karst pernah berencana mengadakan konggres tahunan di Indonesia untuk membahas perkembangan ilmu karst di dunia, serta berencana menominasikan karst Gunung Sewu sebagai Warisan Dunia (World Heritage), namum terbentur kelembagaan yang terkait kawasan karst ini di Indonesia yang ternyata sampai saat ini belum siap. Dalam kesempatan PIT IGI 1999 ini, diharapkan akan munculnya komitmen para geograf se-Indonesia terutama yang berminat pada kawasan karst untuk bersama-sama memikirkan, mendiskusikan, serta berupaya positif menjadikan kawasan karst sebagai salah satu obyek kajian utama pada pertemuan-pertemuan yang akan datang. Diharapkan pula kan adanya kegiatan-kegiatan secara bersama untuk megembangkan keilmuan karst di Indonesia dengan terbentuknya semacam forum komunikasi yang diharapkan akan dapat berkembang menjadi Komisi Karst IGI yang tentunya akan dapat menjalin kerjasama dengan komisi karst IGU untuk lebih memperhatikan dan mengkaji kawasan karst di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Appelo, CAJ. 1986. Hidrochemistry. Amsterdam : InstItute of Earth Sicience, Free UniversIty. Army Caving Association (ACA), 1986, 1986 – Java ExpedItion, ACA and RCT. London. Balas, 1968, Karst Region in Indonesia, Karszt-Es Barkangkutatas-Volume V, Budapest. Bedos, A, L. Deharveng, P. Leclerc, D. Rigal, dan P.Solier, 1990, Expeditions Maros 88 – Maros 89, Association Pyrennene de Seoleologie, France. Bemmelen, R.W. Van. 1949. The Geology of Indonesia. The Hague : Government Printing Office. Billings, M.P. 1960. Structural Geology. New York: Prentice – Hall, Englewood Clifffs. Chow, Van Te. 1964. Hand-Book of Applied Hydrology. London : McGraw – Hill Book Company. FakuItas Kehutanan UGM, 1993, Studi Penanganan Daerah Tangkapan Air (DTA) Sungai Bribin Gunung Kidul, FakuItas Kehutanan UGM, Kerjasama dengan Proyek Gerakan Penghijauan dan Penyuluhan Kehutanan DIY, Yogyakarta. Ford, D.C. dan P.W. Wiliam, 1995, Karst Geomorphology and Hydrology, Chapmand Hall, London. Gillieson, D., 1991, Caves: Processes, Development, Managements, Blackwell Publisherrs Ltd, Oxford, UK. Harjosoemantri, K., 1991 Hukum Perlindungan Lingkungan : Komservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Gadjam Mada Univ Press, Yogyakarta. Hem, J.D. 1971. Study and Interpretation of The Chemical Characteristic of Natural Water. U.S. Geological Survey Supply Zpaper No. 1473. Washington D.C. : Government Printing Office. HIKESPI. 1996. Kumpulan Makalah Simposium Lingkungan Karst. Jakarta. HIKESPI. Ko, R.K.T., MD.DV., 1984. Peranan Ilmu Speleologi Dalam Penyelidikan Fenomena Karstik dan Sumberdaya Tanah dan Air – Sebuah Informasi Soal Speleologi, Ceramah Pada Pusat Penelitian Tanah –Bogor, Bogor. Kunto Wibisono. 1991. Karakteristik Airtanah Formasi Batugamping Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Skripsi Sarjana, Yogyakarta : FakuItas Geografi, UniversItas Gadjah Mada. Lehmann, H., 1936, Morphologische tudien auf Java, Geogr. Abhandl. 9, Stutgard. Linhua, S, 1996, Mechanism of Karst Depresion Evolution and Its Hydrological Ecolution, Acta Geographica Sinica, 41, 41-50. Mahasiswa Pecinta Alam FakuItas Geografi UGM (GEGAMA), 1995, Goa Bribin – Sebuah Laporan Pemetaan dan Pemotretan. Kerjasama Dengan BAPPEDA DIY dan Dinas Pekerjaan Umum DIY, Dok. GEGAMA. Mardiadipura, T., Amir, dan Zulfahmi, 1977, Batugamping dan Dolomit di Indonesia, Publikasi Teknik-Seri Geologi Ekonomi No. 8, Direktorat Jendral Pertambangan Umum, Bandung. Martopo. Sugeng. 1988. Potensi Ketersediaan Air Pada Ekosistem Karst di Gunung Kidul. No : 26, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup LIT – UGM, Yogyakarta. McDonald and Partners. 1984. Greater Yogyakarta – Groundwater Resources Study. Vol 1 : Main Report. Yogyakarta : Directorate general of Water Resources Development Project (P2AT). _______________ 1984. Greater Yogyakarta – Cave Surveying : Main Report. Yogyakarta : Directorate general of Water Resources Development Project (P2AT). Pannekoek, A.J. 1949. Outline of The Geomorphology Java. Luden :E.J. Ridarso.Eko. 1996. Aplikasi Teknik Penginderaan Jauh Untuk Estimasi Jalur Sungai Bawah Tanah Daerah Karst Tropik – Studi Kasus : Sungai Bawah Tanah Bribin Daerah Karst Gunung Sewu Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi Sarjana, Yogyakarta : FakuItas Geografi, UniversItas Gadjah Mada. Scoffin T.P., 1987, An Introduction to Carbonat Sediments and Rocks, Blackie & Son Limited, London. Summerfield, M.A., 1991, Global Geomorphology, John Wiley and Sons, New York. Todd, David KeIth. 1980. Ground Water Hydrology. New York : Mc Graw – Hill Book Company. Inc. Widyastuti M., 1991. Pengaruh Struktur Kekar Terhadap Karakteristik Mataair di Cekungan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul. Skripsi Sarjana, Yogyakarta : FakuItas Geografi, UniversItas Gadjah Mada. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bumi merupakan satu-satunya planet yang dapat dihuni oleh makhluk, dimana pada awal pembentukannya berawal dari aktivitas dan pengaruh matahari, yang apada akhirnya mengalami pembentukan dan evolusi sampai pada keadaan seperti sekarang ini. Bentukan alam di permukaan bumi terjadi karena proses pembentukan tertentu melalui serangkaian evolusi tertentu pula. Sehingga dlam setiap proses pembentukannya akan melibatkan tenaga dan unsur-unsur tertentu, baik itu unsur yang bersifat fisik, biologis maupun kimiawi tenaga endogen maupun tenaga eksogen yang bersifat membentuk dan mengubah (merusak) bentuk permukaan bumi. Secara alami bumi mengalami pembentukan secara bertahap, dan memebentuk sebuah gugusan permukaan yang terhampar luas yang memiliki kenampakan medan baik secara visula mauoun secara fisik yang dapat dikatakan sebagai landform atau bentuk lahan. Yang kemudian akibat pengaruh kondisi permukaan ( tenaga eksogen ) yang kemudian bergabung menjadi Lanskap yang terdiri dari fitur yang terlihat dari luas tanah, termasuk elemen-elemen fisik bentang alam seperti (es tertutup) gunung, bukit, badan air seperti sungai, danau, kolam dan laut, unsur-unsur hidup tutupan lahan, termasuk vegetasi asli, manusia unsur termasuk berbagai bentuk penggunaan lahan, bangunan dan struktur, dan elemen fana seperti pencahayaan dan kondisi cuaca. Salah satu bentuk lahan yang paling banyak di sekitar kita adalah bentuk lahan karst ( grup karst ) merupakan landform yang didominasi oleh bahan batu gamping, pada umumnya keadaan morfologi daerah ini tidak teratur. Landform ini dicirikan oleh adanya proses pelarutan bahan batuan penyusun yaitu dengan terjadinya sungai di bawah tanah, gua-gua dengan stalagtit, stalagmit, dll. Berdasarkan penjelasan diatas, maka kami membuat makalah tentang bagaimana kondisi karst dalam kaitannya dengan kajian ilmu geomorfologi. Untuk lebih mendalami mengenai karst dalam kaitannya sebagai bagian dari bentuk lahan. 1.2 Tujuan Penulisan Adapun tujuan kami dalam membuat TULISAN tentang bentuk lahan karst adalah untuk memenuhi tugas dari dosen mata kuliah bersangkutan. Selain itu untuk lebih menambah wawasan mengenai bentuk kahan karst serta untuk memberikan informasi kepada mahasiswa yang lain bagaimana bentuk lahan karst II. PEMBAHASAN 2.1 Bentuk Lahan Karst Landform yang didominasi oleh bahan batu gamping, pada umumnya keadaan morfologi daerah ini tidak teratur. Landform ini dicirikan oleh adanya proses pelarutan bahan batuan penyusun yaitu dengan terjadinya sungai di bawah tanah, gua-gua dengan stalagtit, stalagmit, dll (www.wikipedia.com/karst). Karst adalah sebuah bentukan di permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping. Istilah karst yang dikenal di Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya adalah krst / krast' yang merupakan nama suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota Trieste dengan Ciri-ciri daerah karst antara lain sebagai berikut : 1. Daerahnya berupa cekungan-cekungan 2. Terdapat bukit-bukit kecil 3. Sungai-sungai yang nampak dipermukaan hilang dan terputus ke dalam tanah. 4. Adanya sungai-sungai di bawah permukaan tanah 5. Adanya endapan sedimen lempung berwama merah hasil dari pelapukan batu gamping. 6. Permukaan yang terbuka nampak kasar, berlubang-lubang dan runcing. Karst tidak hanya terjadi di daerah berbatuan karbonat, tetapi terjadi juga di batuan lain yang mudah larut dan mempunyai porositas sekunder (kekar dan sesar intensif), seperti batuan gipsum dan batugaram. Namun demikian, karena batuan karbonat mempunyai sebaran yang paling luas, karst yang banyak dijumpai adalah karst yang berkembang di batuan karbonat. KARSTIFIKASI Karstifikasi atau proses permbentukan bentuk-lahan karst didominasi oleh proses pelarutan. Proses pelaturan batugamping diawali oleh larutnya CO2 di dalam air membentuk H2CO3. Larutan H2CO3 tidak stabil terurai menjadi H- dan HCO3 2-. Ion H- inilah yang selanjutnya menguraikan CaCO3 menjadi Ca2+ dan HCO3 2- Secara ringkas proses pelarutan dirumuskan dengan reaksi sebagai berikut. CaCO3 + H2O + CO2 Ca2+ + 2 HCO3- FAKTOR KARSTIFIKASI Karstifikasi dipengaruhi oleh dua kelompok faktor, faktor pengontrol dan factor pendorong. Faktor pengontrol menentukan dapat tidaknya proses karstifikasi berlangsung, sedangkan faktor pendorong menentukan kecepatan dan kesempurnaan proses karstifikasi. Perkembangan bentuklahan karst sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Variasi tersebut disebabkan oleh faktor-faktor yang mengontrol perkembangannya, seperti batuan, struktur geologi, vegetasi, dan iklim. Faktor-faktor tersebut secara bersama-sama menentukan intensitas dan kecepatan karstifikasi. Hasil dari proses karstifikasi tersebut adalah bentuklahan karst. Bentuk lahan kawasan karst memiliki karakteristik berupa bentukan negative yang tertutup dengan berbagai ukuran dan susunan, pola drainase yang terputus–putus, gua–gua dan aliran sungai bawah tanah. Bentukan alam permukaan kawasan karst sangat beragam dan tiap daerah memiliki ciri atau bentukan yang berbeda. Ada yang berbentuk seperti menara atau disebut Tower Karst, ada yang berbentuk Cawan Terbalik atau biasa disebut Conical Hill. Antara bukit–bukit Karst Tower dan Conical bisa terlihat lembah–lembah yang lebar atau sempit. Bukit–bukit tersebut terkadang terpisah oleh suatu dataran yang luas akan tetapi terkadang juga ada yang saling berdempetan dengan bentuk yang simetris atau asimetris dengan tinggi yang relative hampir sama. Kawasan Karst yang belum dijamah oleh manusia (Agraris dan Pertambangan) biasanya masih tertutup Vegetasi yang lebat bahkan bisa tidak terlihat dari kejauhan bahwa daerah tersebut adalah daerah karst. Terkecuali Vegetasi tersebut telah dibabat oleh aktivitas manusia seperti, Pertanian, Pertambangan, Penebangan Liar. Vegetasi kawasan karst juga bisa habis akibat gerakan Gletser yang menerjang kawasan tersebut beberapa juta tahun yang lalu. Akibat dari aktivitas tersebut maka timbullah penggundulan dan pengikisan permukaan karst (Anonim, 2011). Perkembangan bentuklahan karst sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Variasi tersebut disebabkan oleh faktor-faktor yang mengontrol perkembangannya, seperti batuan, struktur geologi, vegetasi, dan iklim. Faktor-faktor tersebut secara bersama-sama menentukan intensitas dan kecepatan karstifikasi. Hasil dari proses karstifikasi tersebut adalah bentuklahan karst. · Bentuklahan karst makro Morfologi karst makro di suatu wilayah dapat meliputi beberapa kombinasi dari bentukan negatif berupa dolin, uvala, polje, atau ponor; dan bentukan positif berupa kegel, mogote, atau pinacle (Sweeting, 1972, Trudgil, 1985; White, 1988; dan Ford dan williams, 1996). · Bentuklahan karst mikro Morfologi mikro daerah karst dalam literatur dan artikel karst diistilahkan dengan karren (bahasa Jerman) atau lapies (bahasa Prancis). Dimensi karren bervariasi dari 1 hingga 10 meter, sedangkan mikro karen mempunyai demensi kurang dari 1 cm (Ford dan Williams, 1996). Karren dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok, yaitu bentuk membulat, bentuk memanjang yang terkontrol oleh kekar, bentuk linier yang terkontrol proses hidrolik, dan bentuk polygonal. 2.2 KLASIFIKASI KARST Topografi karst telah banyak ditemukan di berbagai tempat di belahan bumi dengan berbagai tipe. Peneliti karst telah mencoba menjelaskan variasi karst dan mengklasifikasi tipe-tipe karst. Klasifikasi karst secara umum dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu 1) klasifikasi yang didasarkan pada perkembangan (Cvijic), 2) klasifikasi yang didasarkan pada morfologi, dan 3) klasifikasi yang didasarkan pada iklim (Sawicki, Lehmann, Sweeting). Beberapa klasifikasi karst berikut ini adalah klasifikasi Cvijic, Gvozdeckij dan Sweeting KLASIFIKASI CVIJIC (1914) Cvijic membagi topografi karst menjadi tiga kelompok, yaitu holokarst, merokarst, dan karst transisi. Holokarst merupakan karst dengan perkembangan paling sempurna, baik dari sudut pandang bentuklahannya maupun hidrologi bawah permukaannya. Karst tipe ini dapat terjadi bila perkembangan karst secara horisontal dan vertikal tidak terbatas; batuan karbonat masif dan murni dengan kekar vertikal yang menerus dari permukaan hingga batuan dasarnya; serta tidak terdapat batuan impermeable yang berarti. Karst tipe holokarst yang dicontohkan oleh Cvijic adalah Karst Dinaric, Lycia, dan Jamaica. Di Indonesia, karst tipe ini jarang ditemukan, karena besarnya curah hujan menyebabkan sebagian besar karst terkontrol oleh proses fluvial. Merokarst merupakan karst dengan perkembangan tidak sempurna atau parsial dengan hanya mempunyai sebagian ciri bentuklahan karst. Merokarst berkembang di batugamping yang relatif tipis dan tidak murni, serta khususnya bila batugamping diselingi oleh lapisan batuan napalan. Perkembangan secara vertikal tidak sedalam perkembangan holokarst dengan evolusi relief yang cepat. Erosi lebih dominan dibandingkan pelarutan dan sungai permukaan berkembang. Merokarst pada umumnya tertutup oleh tanah, tidak ditemukan karen, dolin, goa, swallow hole berekembang hanya setempat setempat. Sistem hidrologi tidak kompleks, alur sungai permukaan dan bawah permukaan dapat dengan mudah diidentifikasi. Drainase bawah tanah terhambat oleh lapisan impermeabel. Contoh dari karst ini adalah karst di Batugamping Carbonferous Britain, Irlandia, Galicia Polandia, Moravia karst Devonian, dan karst di Prancis utara. Contoh merokarst di Indonesia diantaranya adalah karst di sekitar Rengel Kabupaten Tuban. Karst Transisi berkembang di batuan karbonat relatif tebal yang memungkinkan perkembangan bentukan karst bawah tanah, akan tetapi batuan dasar yang impermeabel tidak sedalam di holokarst, sehingga evolusi karst lebih cepat; lembah fluvial lebih banyak dijumpai, dan polje hampir tidak ditemukan. Contoh dari karst transisi menurut Cvijic adalah Karst Causses Prancis, Jura, Plateux Balkan Timur, dan dan Dachstein. Contoh holokarst di Indonesia yang pernah dikunjungi penulis antara lain Karst Gunung Sewu (Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan), Karst Karangbolong (Gombong), dan Karst Maros (Sulawesi Selatan). KLASIFIKASI GVOZDECKIJ (1965) Gvozdeckij mengklasifikasi karst berdasarkan pengamatannya di Uni Soviet (sekarang Rusia). Menurutnya karst dibedakan menjadi bare karst, covered karst, soddy karst, buried karst, tropical karst, dan permafrost karst. Bare karst lebih kurang sama dengan karst Dinaric (holokarst) Covered karst merupakan karst yang terbentuk bila batuan karbonat tertutup oleh lapisan aluvium, material fluvio-glacial, atau batuan lain seperti batupasir. Soddy karst atau soil covered karst merupakan karst yang berkembang di batugamping yang tertutup oleh tanah atau terra rosa yang berasal dari sisa pelarutan batugamping. Buried karst merupakan karst yang telah tertutup oleh batuan lain, sehingga bukti-bukti karst hanya dapat dikenalai dari data bor. Tropical karst of cone karst merupakan karst yang terbentuk di daerah tropis. Permafrost karst merupakan karst yang terbentuk di daerah bersalju. KLASIFIKASI SWEETING (1972) Karst menurut Sweeting diklasifikasikan menjadi true karst, fluviokarst, glaciokarst, tropical karst, arid an semiarid karst. Klasifikasi Sweeting terutama didasarkan pada iklim. `True karst merupakan karst dengan perkembangan sempurna (holokarst). Karst yang sebenarnya harus merupakan karst dolin yang disebabkan oleh pelarutan secara ertikal. Semua karst yang bukan tipe dolin karst dikatakan sebagai deviant. Contoh dari true karst menurut Sweeting adalah Karst Dinaric. Fluviokarst dibentuk oleh kombinasi antara proses fluvial dan proses pelarutan. luviokarst pada umumnya terjadi di daerah berbatuan gamping yang dilalui oleh sungai alogenik (sungai berhilir di daerah non-karst). Sebaran batugamping baik secara lateral maupun vertical jauh lebih kecil daripada true karst. Perkembangan sirkulasi bawah tanah juga terbatas disebabkan oleh muka air tanah lokal. Mataair muncul dari lapisan impermeable dibawah batugamping maupun dekat muka air tanah lokal. Lembah sungai permukaan dan ngarai banyak ditemukan. Bentukan hasil dari proses masuknya sungai permukaan ke bawah tanah dan keluarnya sungai bawah kembali ke permukaan seperti lembah buta dan lembah saku merupakan fenomena umum yang banyak dijumpai. Goa-goa di fluviokarst terbentuk di perbatasan antara batugamping dan batuan impermeabel di bawahnya oleh sungai alogenik dan berasosiasi dengan perkembangan sungai di daerah karst. Permukaan batugamping di fluviokarst pada umumnya tertutup oleh tanah yang terbentuk oleh erosi dan sedimetasi proses fluvial. Singkapan batugamping (bare karst) ditemukan bila telah terjadi erosi yang pada umumnya disebabkan oleh penggundulan hutan. Glasiokarst merupakan karst yang terbentuk karena karstifikasi didominasi oleh proses glasiasi dan proses glasial di daerah yang berbatuan gamping. Nival karst merupakan karst yang terbentuk karena proses karstifikasi oleh hujan salju (snow) pada linkungan glasial dan periglasial. Glasiokarst terdapat di daerah berbatugamping yang mengalami glasiasi atau pernah mengalami glasiasi. Glasiokarst dicirikan oleh kenampakan-kenamapakan hasil penggogosan, erosi, dan sedimentasi glacier. Hasil erosi glacier pada umumnya membentuk limstone pavement. Erosi lebih intensif terjadi di sekitar kekar menhasilkan cekungan dengan lereng terjal memisahkan pavement satu dengan lainnya. Dolin-dolin terbentuk terutama disebabkan oleh hujan salju. Pencairan es menhasilkan ngarai, pothole, dan goa, Karakteristik lain dari glasiokarst adalah goa-gaoa yang terisi oleh oleh es dan salju. Contoh dari galsiokarst adalah karst di lereng atas pegunungan Alpen. Tropical karst berbeda dengan karst di iklim sedang dan kutub terutama disebabkan oleh presipitasi dan evaporasi yang besar. Presipitasi yang yang besar menghasilkan aliran permukaan sesaat yang lebih besar, sedangkan evaporasi menhasilkan rekristalisasi larutan karbonat membentuk lapisan keras di permukaan. Hal ini menyebabkan dolin membulat seperti di iklim sedang jarang ditemukan digantikan oleh dolin berbentuk bintang yang tidak beraturan. Dolin tipe ini sering disebut kockpit. Di antara dolin ditemukan bukit-bukit yang tidak teratur disebut dengan bukit kerucut. Karst tropis secara lebih rinci dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: 1. kegelkarst (sinoid karst, cone karst, atau karst a piton) 2. turmkarst (karst tower, pinacle karst, atau karst a tourelles) Kegelkarst dicirikan oleh kumpulan bukit-bukit berbentuk kerucut yang sambung menyambung. Sela antar bukit kerucut membentuk cekungan dengan bentuk seperti bintang yang dikenal dengan kockpit. Kockpit seringkali membentuk pola kelurusan sebagai akibat kontrol kekar atau sesar. Depresi atau kockpit yang terkontrol kekar atau sesar ini oleh Lemann disebut gerichteter karst (karst oriente). Contoh kegelkarst di Indonesia antara lain Karst Gunungsewu dan Karst Karangbolong. Turmkarst/menara karst/pinacle karst merupakan tipe karst kedua yang sering dijumpai di daerah tropis. Tipe karst ini dicirikan oleh bukitbukit dengan lereng terjal, biasanya ditemukan dalam kelompok yang dipisahkan satu sama lain dengan sungai atau dataran aluvial. Tower karst dibentuk berkembang apabila pelarutan lateral oleh muka air tanah yang sangat dangkal atau oleh sungai alogenik yang melewati singkapan batugamping. Beberapa ahli beranggapan bahwa turmkarst merupakan perkembangan lebih lanjut dari kegelkarst karena kondisi hidrologi tertentu. Distribusi dan sebaran bukit menara pada umumnya dikontrol oleh kekar atau sesar. TIPE KARST YANG LAIN Selain klasifikasi di atas, literatur atau peneliti karst lain telah memberi nama tertentu untuk suatu kawasan karst. Penamaan yang digunakan hanya dimaksudkan untuk member nama tanpa bermasud mengklasifikasi secara sistematis. Beberapa tipe karst yang sering digunakan dan sering muncul di literatur karst antara lain labirynt karst dan polygonal karst. Labyrint karst merupakan karst yang dicirikan oleh koridor-koridor atau ngarai memanjang yang terkontrol oleh kekar atau sesar. Morfologi karst tersusun oleh blok-blok batugamping yang dipisahkan satu sama lain oleh ngarai/koridor karst. Karst tipe ini terbentuk karena pelarutan yang jauh lebih intensif di jalur sesar dan patahan Sebaliknya di tempat lainnya pelarutan tidak intensif. Karst labirint di Indonesia dapat dijumpai di Papua dan di sebagian Gunungsewu Gambar Kenampakan karst labirint Karst Poligonal merupakan penamaan yang didasarkan dari sudut pandang morfometri dolin. Karst tipe ini dapat berupa karst kerucut maupun karst menara. Karst dikatakan poligonal apabila ratio luas dolin dangan luas batuan karbonat mendekati satu atau satu. dengan kata lain semua batuan karbonat telah berubah menjadi kumpulan dolin-dolin dan dolin telah bersambung satu dengan lainnya Gambar Kenampakan karst plygonal Karst Fosil merupakan karst yang terbentuk pada masa geologi lampau dan saat ini proses karstifikasinya sudah berhenti (Sweeting, 1972). Dalam hal ini karstifikasi tidak berlangsung hingga saat ini karena perubahan iklim yang tidak lagi mendukung proses karstifikasi. Karst fosil banyak diketukan di Baratlaut Yoksire-Ingris. Karst fosil dapat dibedakan menjadi dua tipe. Pertama, karst yang terbentuk di waktu geologi sebelumnya dan tidak tertutupi oleh batuan lain. Tipe ini disebut dengan bentuklahan tinggalan (relict landform). Kedua, karst terbentuk di periode geologi sebelumnya yang kemudian ditutupi oleh batuan nonkarbonat. Bentuklahan karst tersebut selanjutnya muncul ke Permukaan karena batuan atapnya telah tersingkap oleh proses denudasi. Tipe ini disebut dengan bentuklahan tergali (exhumed lanform). 2.3 Proses Pembentukan Karst Daerah karst terbentuk oleh pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat lain misalnya dolomit, dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batupasir dan kuarsa, dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). Daerah ini disebut karst asli. Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses cuaca, kegiatan hidrolik, pergerakan tektonik, air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk lahan yang cocok adalah pseudokarst (karst palsu). Bentuk lahan solusional mempunyai karakteristik relief dan drainase alami yang spesifik karena proses solusi/pelarutan pada batuan yang mudah larut seperti batugamping. Beberapa ciri kenampakan solusional antara lain : alur-alur dan igir pelarutan yang banyak mengandung kapur (CaCO3), lapies, solusional pits, facets, flutes dan runnels berupa aliran-aliran bawah tanah atau gua-gua kapur dengan stalagtit dan stalagmit. Bentuklahan yang berkembang pada satuan ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik litologi dan kondisi iklimnya. Proses pelarutan akan meninggalkan bekas berupa kubah-kubah gamping yang membulat teratur dan seragam, dan terbentuk lubang-lubang drainase atau porositas berupa doline atau polye yang menyatu dengan aliran bawah tanah. Retakan yang intensif akan mengakibatkan konsentrasi infiltrasi dan kelurusan dari sinkhole sepanjang retakan. Karakteristik yang dapat dilihat dari foto udara umumnya berupa bentukan dengan topografi kasar, banyak bulatan-bulatan kubah sisa pelarutan yang mempunyai pola teratur, aliran-aliran sungai tidak teratur dan terpotong/menghilang akibat masuk dalam ponor infiltrasi menuju sungai bawah tanah, rona cerah dan banyak bercak-bercak kehitaman, vegetasi jarang dan lahan belum banyak dimanfaatkan. Sistem retakan dan patahan sering banyak dijumpai akibat pengangkatan material dari dasar laut ke permukaan membentuk perbukitan/ pegunungan (berdasar genesanya). http://3.bp.blogspot.com/_FNWtF6SDheI/TN0G12RM6gI/AAAAAAAAAMI/FMbrDXTmFJc/s400/karst_cave_e.jpg . PROFIL BENTUK LAHAN KARST Bentuk lahan karst tersebut mempunyai pengaruh terhadap air dan dipengaruhi air, sehingga kekhasan dari geomorfologi dari suatu lingkungan karst dapat dijadikan dasar untuk memperkirakan kondisi tata airnya. Sumber air di lingkungan karst perlu diketahui karakteristiknya, agihan jumlahnya, dan kualitas menurut ruang dan waktu. 2.4 Sistem Kehidupan dan Potensi Bentuk Lahan Dari Grup Karst Indonesia mempunyai kawasan karst seluas 20% dari total wilayahnya. Salah satu kawasan karst di Indonesia yang dikenal sebagai Gunung Sewu pernah didengungkan akan dicalonkan sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) karena keunikannya. Batu gamping sebagai salah satu bahan baku pembuatan semen, dengan eksplorasi yang tidak bijaksana, lambat laun warisan dunia yang unik dan terbentuk ribuan tahun ini akan hilang dan hanya menjadi cerita anak cucu kita kelak, jika kita tidak ikut membantu melestarikannya. Mengenai sistem kehidupan Karst, ekosistem karst memiliki keunikan, baik secara fisik, maupun dalam aspek keanekaragaman hayati. Belum banyak jenis biota gua Indonesia yang diungkapkan. Baru beberapa jenis udang gua (Macrobrachium poeti), kalajengking gua dari Maros (Chaerilus sabinae), kepiting gua buta (Cancrocaeca xenomorpha), kepiting mata kecil (Sesarmoides emdi), isopoda gua (Cirolana marosina), Anthura munae, kumbang gua (Eustra saripaensis), Mateullius troglobiticus, Speonoterus bedosae, ekorpegas gua (Pseudosinella maros), Stenasellus covillae, S. stocki, S. monodi, dan S. javanicus dari karst Cibinong. Dan salah satu yang paling umum dilihat dari sistem kehidupan karst adalah dengan adanya gua. Bentuk ornamen-ornamen gua merupakan keindahan alam yang jarang kita jumpai di alam terbuka. Di tengah kegelapan abadi proses pengendapan berlangsung hingga membentuk ornamen-ornamen gua ( speleothem ). Proses ini disebabkan karena a ir tanah yang menetes dari atap gua mengandung lebih banyak CO2 daripada udara sekitarnya. Dalam rangka mencapai keseimbangan, CO2 menguap dari tetesan air tersebut. Hal ini menyebabkan berkurangnya jumlah asam karbonat, yang artinya kemampuan melarutkan kalsit menjadi berkurang. Akibatnya air tersebut menjadi jenuh kalsit (CaCO3) dan kemudian mengendap. Berbagai ornamen gua yang sering di jumpai yaitu Stalaktit( stalactite),Stalagmit,(stalagmite)Tiang(column)Tirai, (draper Teras-teras travertine, Geode (batu permata. Kondisi lingkungan gua yang telah kehilangan cahaya dan relatif stabil dengan suhu rendah dan kelembaban yang tinggi, berbeda dengan kondisi lingkungan di luar gua dimana semua kehidupan didapatkan dari sinar matahari, sehingga dianggap sebagai ekosistem tersendiri walaupun hanya seluas sistem perguaan tersebut. Kondisi lingkungan gua yang telah kehilangan cahaya dan relatif stabil dengan suhu rendah dan kelembaban yang tinggi, berbeda dengan kondisi lingkungan di luar gua dimana semua kehidupan didapatkan dari sinar matahari, sehingga dianggap sebagai ekosistem tersendiri walaupun hanya seluas sistem perguaan tersebut. Potensi Kawasan Karst · Penambangan Batu Gamping di Kawasan Karst Kawasan karst merupakan bentang alam yang unik dan langka. Karena terbentuk dengan proses yang berlangsung lama dan hanya di jumpai pada daerah-daerah tertentu, sudah barang tentu kawasan karst menjadi obyek eksplorasi dan eksploitasi manusia yang tidak pernah merasa puas. Secara umum kawasan karst mempunyai berbagai potensi yang bermanfaat antara lain : § Potensi Ekonomi § Potensi Sosial § Potensi Ilmu Pengetahuan · Potensi Ekonomi Obyek wisata Gua Jatijajar di Kab. Kebumen Jateng, maros gua leang-leang. Semakin meroketnya jumlah penduduk tak ayal lagi membuat manusia berusaha untuk bertahan hidup. Gua yang umumnya di jumpai dikawasan karst sudah lama dijadikan manusia sebagai hunian. Selain sebagai hunian, kawasan karst juga tempat untuk pertanian/peternakan, perkebunan, kehutanan, penambangan batu gamping, penambangan guano (kotoran kelelawar), penyediaan air bersih, air irigasi dan perikanan, serta kepariwisataan.Salah satu pemanfaatan yang merugikan adalah penambangan batu gamping. Dengan menggunakan bahan peledak akan menganggu hewan didalamnya (kelelawar, burung walet).Pemanfaatan yang baik untuk kelestarian kawasan karst adalah pariwisata yang selalu berusaha untuk mempertahankan keaslian dan keunikan kawasan karst tersebut. · Potensi Sosial Cerita Mitos Di Gua jatijajar Nilai sosial-budaya kawasan karst selain menjadi tempat tinggal juga mempunyai nilai spiritual/religius, estitika, rekreasional dan pendidikan. Banyak tempat di kawasan karst yang digunakan untuk kegiatan spiritual/religius. Banyak aspek hubungan antara manusia dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat spiritual khususnya dengan keyakinan masyarakat dengan fenomena alam di sekitarnya seperti halnya gua. Hubungan antara manusia dan alam disekitarnya pada dasarnya akan memberikan pelajaran kepada manusia bagaimana melestarikan alam dan dekat dengan Sang Penciptanya. · Potensi Ilmu Pengetahuan Penelitian sumber Daya Hayati di dalam gua Kawasan karst dapat menjadi obyek kajian yang menarik bagi berbagai disiplin ilmu antara lain: geologi, geomorfologi, hidrologi, biologi, arkeologi dan karstologi. Masing-masing disiplin ilmu tersebut mempunyai ketertarikan terhadap kawasan karst karena kandungan fenomenanya sangat berbeda dengan kawasan lain di permukaan bumi ini. Fenomena abiotik, biotik di atas permukaan dan di bawah permukaan kawasan karst masih belum banyak yang terungkap. Kawasan karst masih mengandung berbagai tantangan ilmiah dari berbagai sudut ilmu pengetahuan. Hidrologi Karst Akuifer Karst Akuifer dapat diartikan sebagai suatu formasi geologi yang mampu menyimpan dan mengalirkan airtanah dalam jumlah yang cukup pada kondisi hidraulik gradien tertentu (Acworth, 2001). Cukup artinya adalah mampu mensuplai suatu sumur ataupun mata air pada suatu periode tertentu. Dapatkah formasi karst yang didominasi oleh batuan karbonat disebut sebagai suatu akuifer?. Jawaban dari pertanyaan ini dapat kita kembalikan dari definisi akuifer seperti yang telah disebutkan di atas. Jika formasi karst dapat menyimpan dan mengalirkannya sehingga sebuah sumur atau mataair mempunyai debit air yang cukup signifikan, maka sah-sah saja jika formasi karst tersebut disebut sebagai suatu akuifer. Perdebatan mengenai hal ini sudah terjadi terutama pada masa-masa lampau dan solusi yang ada biasanya tergantung dari sudut hidrogeologis mana kita memandangnya. Selanjutnya, dua hal ekstrim pada akuifer karst adalah adanya sistem conduit dan diffuse yang hampir tidak terdapat pada akuifer jenis lain (White, 1988). Ada kalanya suatu formasi karst didominasi oleh sistem conduit dan ada kalanya pula tidak terdapat lorong-lorong conduit tetapi lebih berkembang sistem diffuse, sehingga hanya mempunyai pengaruh yang sangat kecil terhadap sirkulasi airtanah karst. Tetapi, pada umumnya suatu daerah karst yang berkembang baik mempunyai kombinasi dua element tersebut. Air Tanah Daerah Karst. Sistem hidrologi daerah karst secara umum bersifat impermeabel, tetapi karena terdapat celah dan rekahan maka batuan menjadi impermeabel (atau bisa disebut permeabilitas skunder), dengan demikian air hujan dapat masuk ke dalam batuan, membentuk rekahan-rekahan yang melebar, terbentuk gua-gua dan menyatu antara rekahan satu dengan yang lain akhirnya terjadilah sungai bawah tanah. Proses hidrologi karst dimulai dari pelebaran celah-celah dan rekahan-rekahan oleh proses pelarutan air hujan terhadap batuan kalsium karbonat. Variasi larutan dapat sangat lambat sampai cepat, yang sangat tergantung adanya CO2 dalam tanah. Bentukan awal yang terjadi adalah Sinkhole (Doline = luweng) terutama di persilangan rekahan. Jika doline berdekatan akan membentuk uvala, karena sudah terjadi amblesan batu gamping pada musim hujan doline dan uvala akan terisi air (menjadi telaga) yang merupakan sumber air permukaan daerah karst. Air tanah karst secara kulitatif tentunya mempunyai kualitas yang umumnya baik. Sebagian besar sumber air tanah karst ini digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air minum.Umumnya kualitas air tanah karst mempunyai konsentrasi unsur Ca (kalsium), Mg (magnesium), dan kesadahan yang tinggi. Hal ini sesuai dengan komposisi mineral batuan karbonat yang memang didominasi Ca dan Mg. Oleh karena itu sumber air ini bila digunakan sebagai air minum sebaiknya diendapkan terlebih dahulu agar konsentrasi dua unsur tersebut dapat berkurang. Efek dari penggunaan air yang mengandung Ca dan Mg yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya kerja ginjal. Pencemaran air tanah karst dapat terjadi terutama berasal dari daerah imbuhannya, misalnya dari kotoran kelelawar dalam gua, penebangan tanaman, penambangan batu gamping dan lainnya. III. KESIMPULAN Berdasarkan penjelasan diatas maka kami dapat menyimpulkan sebagai berikut : 1. Karst adalah sebuah bentukan di permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping 2. Bentuklahan yang berkembang pada satuan ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik litologi dan kondisi iklimnya. Proses pelarutan akan meninggalkan bekas berupa kubah-kubah gamping yang membulat teratur dan seragam, dan terbentuk lubang-lubang drainase atau porositas berupa doline atau polye yang menyatu dengan aliran bawah tanah. Retakan yang intensif akan mengakibatkan konsentrasi infiltrasi dan kelurusan dari sinkhole sepanjang retakan. 3. Perkembangan bentuklahan karst sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Variasi tersebut disebabkan oleh faktor-faktor yang mengontrol perkembangannya, seperti batuan, struktur geologi, vegetasi, dan iklim. Dan kemudian hasil dari proses tersebut membagi bentuk lahan karst menjadi dua yaitu makro dan mikro 4. Ekosistem karst memiliki keunikan, baik secara fisik, maupun dalam aspek keanekaragaman hayati 5. Secara umum kawasan karst mempunyai berbagai potensi yang bermanfaat antara lain : · Potensi Ekonomi · Potensi Sosial · Potensi Ilmu Pengetahuan 6. Sistem hidrologi daerah karst secara umum bersifat impermeabel, tetapi karena terdapat celah dan rekahan maka batuan menjadi impermeabel (atau bisa disebut permeabilitas sekunder. DAFTAR PUSTAKA Adji, T.N., Haryono, E., Suprojo. S.W., 1999. ,Kawasan Karst dan Prospek Pengembangannya di Indonesia, Prosiding Seminar PIT IGI di Universitas Indonesia, 26-27 Oktober 1999 Anonim, 2011. Bentuk lahan karst. http://mamets-analisislansekap.blogspot.com. Diakses tanggal 20 september Anonim, 2011. Bentuk lahan karst. http://id.wikipedia.org/wiki/Karst. Diakses tanggal 20 september Anonim,2011.Prosespembentukankarst.http://earthymoony.blogspot.com/2010/11/bentuklahan-asal-proses-solusional.html. Diakses tanggal 20 september. Anonim, 2011. http://tjahyo-adji.staff.ugm.ac.id/buku_ajar_karst_indonesia.pdf. Diakses tanggal 20 september Geomorfologi dan Hidrologi Karst oleh Eko Haryono dan Tjahyo Nugroho Adji (Kelompok Studi Karst Fakultas Geografi UGM)

Leave a Reply

 
 

Daftar Blog Saya

Blogger news